Cerpen Hidar Amaruddin: Foto Setan

Foto Setan

Masih sepi lalu-lalang orang yang sibuk dengan kehidupan masing-masing. Angin dingin berusaha menyelimuti tetapi hal-hal remeh itu tak mengganggu kemesraan sepasang kekasih. Bahkan semakin menjadi-jadi.

“Kamu mau kan, Beb?”
“Jangan panggil beb, kayak bebek aja sih.”
“Lalu?”

“Panggil aja sayang, cukup…” ucap lelaki itu dengan tatapan tajam.
“Sayang, ah, itu terlalu memuakkan. Penuh sandiwara.”
“Jika begitu, panggil saja namaku.”
“Siapa?”
“Budi.”

“Nama yang terlalu umum, nanti kalau aku tersesat, sulit menemukanmu. Ada beribu Budi di luar sana.”
“Ya sudah, terserah.”
“Oke, Bubud.”
“Siap, mawarku.”

Sang lelaki sibuk bergegas, hendak pergi bekerja. Tak pusing-pusing dengan kemacetan. Mobilnya beribu di garasi, motor pun tinggal milih. Namun jika kemacetan membanjiri pagi, ia harus membawa pesawat pribadi. Pesawat itu terpasang foto diri dengan senyum lebar agar gigi emasnya terlihat.

Nama Bubud juragan paling kaya se-Nusantara pun dikenal. Pesawatnya kadang menjatuhkan beberapa karung berisi uang hingga membuat kemacetan semakin parah.Orang yang katanya kaya, para pejabat, orang terhormat, berhamburan pula keluar dari mobil untuk menampung hujan uang itu. “Dasar orang-orang kehausan,” kata Bubud.

“Bukan lapar ya?” celetuk pilot pribadinya.
“Kamu lapar atau haus?”
“Dua-duanya, Pak.”

“Nih, aku masih punya sekarung uang lagi. Makan sampai puas.”
“Wah, bener nih? Terima kasih. Semoga jasamu tidak dibalas.”
“Hahaha, bisa juga kamu bercanda. Kamu tak akan kuat membalas. Apalagi mereka yang kelaparan di bawah sana.”

Mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju kantor dengan tawa yang meledak-ledak. Tawa yang meningkahi kebisingan Ibu Kota.

*****

Menjelang siang, matahari panas meninggi. Bubud berjalan menuju kantor dengan pengawal pribadi. Ia harus lekas masuk kantor agar kulitnya yang berharga ratusan juta tak tersengat matahari.
Di dalam kantor, pegawainya tunduk tanpa senyuman. Tanpa sambutan.Semua membiarkan kedatangan Bubud dengan hening. Sepanjang lorong, hanya suara sepatu Bubud dan pengawalnya yang terdengar.

“Bekerja keraslah kalian semua!” teriaknya mengagetkan para karyawan.
Semua mata tertuju padanya. Ia bangga dan tersenyum sinis.“Apa kalian lihat-lihat? Ingat anak istri di rumah minta makan. Mau uang? Ya kerja!Dasar budak. Hahaha…!”

Tak ada seorang pun yang marah. Tak ada yang membantah, apalagi berani memukul gigi emas Bubud. Mereka kembali tertunduk, melihat komputer, mengetik, dan mendinginkan hati yang berkobar-kobar karena hampir meledak oleh bom perasaan.

Sampai di ruang direktur, Bubud mengantuk. Sebenarnya ia ingin bermain dengan laptopnya untuk memecahkan masalah dan pernyataan yang mengganggu pikiran akhir-akhir ini. Ia akan meneliti, mengapa pintu bertulisan “dorong”di toko sebelah ternyata bisa ditarik? Sungguh keajaiban yang di luar dugaan. Kebohongan sudah menghujani dunia. Dunia panggung rekayasa!

*****

Di tempat lain, semua karyawan perusahaan Bubud mendiskusikan sesuatu.

“Kau sudah lihat senyumnya tadi?”
“Sialan!” celetuk yang lain.
“Kenapa memang?”
“Menyebalkan.”
“Memuakkan.”

“Menyakitkan. Benar katamu, sialan memang.”
“Bukankah senyumnya memang dari dulu seperti itu?”
“Lama-lama bisa bahaya, kita bakalan jadi budak selamanya.”
“Bagaimana kalau kita menaruhnya di foto?”
“Apa bisa?”

“Bisa, foto bisa untuk bergaya. Tapi juga mengekalkan kenangan.”
“Kalau itu aku sudah tahu. Memang ada foto yang bisa memenjarakan orang?”

“Ada. Aku baru saja membeli kamera di TOKO M1ST3R1, kemarin. Si penjual menjamin keasliannya.”

“Kau berencana membunuhnya?”
“Bukan membunuh tapi menyimpannya dalam foto. Terkadang ada orang yang cukup dikenang, tidak untuk menyala dalam kehidupan.”
“Kau yang melakukan?”
“Bukan aku, kita semua.”

Semua karyawan di kantin siang itu tertawa lepas setelah bertahun-tahun hidup dalam penjara kehidupan. Merenung tanpa harapan. Hanya berharap pada gajian untuk makan keluarga. Sekarang sudah saatnya dunia terbalik. Rakyat adalah penguasa sejati, pemimpin cuma menjalankan amanah. Begitu juga dengan karyawan. Bos hanya menjalankan amanah untuk membukakan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan bagi mereka.

*****

PERSIAPAN sudah matang. Bubud masih terlelap dalam tidur. Dalam mimpi ia melihat rakyat jelata hingga penguasa memujanya. Kekayaan membuat ia lupa Tuhan. Tetapi takdir kelak akan berkata lain, roda pasti berputar. Beberapa karyawan, bahkan puluhan karyawan, menyelinap satu per satu ke dalam ruangan Bubud. Tanpa suara tapi tetap bernafas. Karyawan yang memiliki kamera waktu, bersiap-siap memotret. Ada yang berjaga di pintu, jendela, dan lemari.

“Bos bangun. . .” kata salah satu karyawan.

Bubud terbangun dengan sedikit manja. Biasa, orang kaya memang terlalu lemah, bahkan untuk bangun saja mereka butuh gerakan yang dibuat-buat. Dengan sigap, empat karyawan memegang kedua tangan dan kaki Bubud.

“Hei, apa-apaan kalian?”
“Kami sudah muak denganmu. Dasar bos setan!”
“Aku masih manusia, sumpah!”
“Kau lebih parah dari setan. Kau sudah memperbudak kami, karyawanmu!”

“Bukankah kalian sendiri yang datang padaku, mengemis pekerjaan? Apa kalian lupa? Aku hanya menolong kalian.”

Dengan cepat orang yang memegang kamera segera memotret Bubud.

“Awas kalian! Aaaaaaaaa……!!!”

Menghilanglah Bubud dari ruangan.Lenyap tanpa sisa. Foto secepat kilat tercetak dari kamera. Semua karyawan berkumpul dan ingin melihat, benarkah bosnya bisa terpenjara dengan cara itu.Ternyata benar. Bubud dengan mulut yang masih menganga, diam mematung. Empat karyawan yang tadi memegangipun turut terpenjara dalam foto itu,
beberapa karyawan gusar.

“Lalu bagaimana dengan mereka? Duh, kasihan.”
Pemilik kamera tersenyum sinis dan berkata, “Ada yang harus dikorbankan dalam sebuah perjuangan. Yang penting, jangan kita sia-siakan perjuangan mereka.”

“Lalu kita mau apa?”
“Kita jajah dunia. Kita akan jadi penguasa di negeri ini.”
“Hahahaha…!”

Semua orang hanyut dalam tawa. Tak ada yang sadar, setan kini berpindah ke hati kecil mereka.

Selesai..

Tentang Penulis:

Hidar Amaruddin, lahir di Kudus, 16 Desember 1995. Kini berdomisili dan menjadi penulis musiman di Semarang. Buku puisi pertamanya berjudul “Kisah yang Tak Sudah” (2019). Aktif di forum diskusi Reboan Kelab Buku Semarang. Bisa disapa lewat instagram: @Hiidars

Satu tanggapan untuk “Cerpen Hidar Amaruddin: Foto Setan

  • Juni 16, 2020 pada 2:11 pm
    Permalink

    Mantap bung…
    Aku suka dengan hadirnya web matasastra ini karya”nya sangat menarik

Komentar ditutup.