Cerpen Reni Asih Widiyastuti; Lelaki yang Hendak Membuat Api

Lelaki yang Hendak Membuat Api

Lelaki itu selalu menunaikan janjinya setiap malam. Ia membawa kayu-kayu bakar ke bukit paling jauh. Di bukit itulah cintanya mulai tumbuh. Mula-mula seperti kecambah, lalu mulai membesar seiring siraman air kedamaian dan pupuk kenangan yang teramat sulit dilupakan. Setiap selesai meletakkan kayu-kayu bakar, dia segera membuat api. Api itu bukan sembarang api, karena baginya semakin besar nyala api yang ia ciptakan, maka semakin besar pula rasa cinta di dalam hatinya.


Dalam hidupnya, api tak hanya mampu membakar semua benda, tapi juga dapat membakar semua kenangan. Ya, terutama kenangan buruk. Andaikan saja semua kenangan itu indah, ia tak mungkin menghabiskan waktu dengan percuma selama ini. Bersusah payah mengumpulkan apa pun sebagai bahan untuk menghanguskan perasaan. Dengan harapan—ketika sudah menjadi abu—perasaan itu akan tertelan oleh tanah. Lalu hilang dan tak akan bisa muncul di hadapannya lagi. Tapi ia justru semakin menunda proses pembakaran itu.


Orang-orang telah menganggapnya tidak waras. Tapi ia tidak peduli. Ini adalah cinta pertama dan terakhir baginya. Maka, akan ia tunjukkan kepada semua orang, bahwa ini tidak sesederhana yang mereka bayangkan. Bahkan, ia rela jika harus dihadapkan pada maut sekalipun. Masa bodoh dengan perkataan orang. Ia akan tetap melakukan apa yang menjadi kehendaknya.


Malam ini, ia mengumpulkan kayu-kayu bakar lagi. Ia terlihat bersemangat sembari menatap langit yang bertaburkan bintang. Senyumnya merekah, walau keringat membanjiri dahi dan seluruh bajunya. Kayu-kayu bakar itu kini telah terkumpul banyak. Namun ia belum puas. Ia bertekad untuk mencari kayu bakar lagi di tengah hutan. Aku ingin membuat api paling indah dan bersejarah dalam hidupku, batinnya.


Setelah dirasa cukup, ia pun segera kembali—menuju ke atas bukit. Langkah kakinya begitu mantap, seolah-olah api yang hendak dibuatnya itu telah berkobar di dalam dadanya. Membakar seluruh perasaan yang ada. Lelah, sakit hati dan pengharapan yang palsu. Lambat laun, ia tertawa. Tawa kepuasan.


Api di dalam dadanya seakan terus berkobar. Semakin merambat dan terus merambat. Hingga mampu menembus dan menjamah organ-organ lain di dalam tubuhnya, seiring langkah kakinya yang kian mantap menuju ke atas bukit tertinggi. Tapi apa yang ia dapat ketika telah sampai di atas bukit? Kayu-kayu bakar yang dikumpulkannya sejak tadi tiba-tiba raib.


“Siapa yang telah tega merampas kebahagiaanku?” Suaranya begitu lantang membelah malam. Bahkan lolongan anjing pun kalah.


“Kebahagiaan katamu? Kau justru sedang mencari kesengsaraan.”


Lelaki itu seketika mencari sumber suara yang didengarnya. Suara itu sepertinya berasal dari dalam hutan. Tapi baginya terasa dekat. Ya, sangat dekat. Dia memicingkan mata, tapi tak terlihat satu orang pun.


“Apa katamu! Keluarlah jika kau berani!” ucap lelaki itu semakin geram.


“Aku tak mau keluar!”


“Dasar pengecut!”


Bersamaan dengan itu, segerombolan babi hutan terlihat melintas di hadapannya. Kemudian lari dan hilang di dalam hutan. Lelaki itu pun tersulut amarahnya. Pasti mereka yang telah melenyapkan kayu-kayu bakarku, batinnya lagi. Lalu ia mengejar babi-babi itu. Ia kesetanan. Ia ingin menghabisi mereka.


Tak lama,ia berhasil menyusul babi-babi itu. Napasnya memburu—siap menumpas mereka satu per satu. Awalnya ia tersudut. Beberapa luka bekas serangan babi menghiasi tangan, kaki, bahkan wajahnya. Darah mengucur deras—tak terelakkan.Tapi ia segera bangkit dan mengambil apa saja yang ada di sekitarnya. 10 menit, 15 menit, pertarungan antara manusia dengan para babi akhirnya selesai. Lelaki itu berhasil menaklukkan mereka.
Sejenak lelaki itu tercenung, ke mana perginya suara tadi. Suara tanpa rupa yang tak mau keluar. Dalam hati ia sangat menyesal. Sebab telah berprasangka buruk pada suara itu.

*


Keesokan harinya—saatmalam sempurna datang, lelaki itu mengubah strategi. Ia meletakkan kayu-kayu bakar hasil pencariannya di sebuah gubuk kecil. Agar babi-babi itu tak lagi merampas kebahagiaannya. Benar saja, babi-babi itu tak datang lagi. Ia tersenyum puas. Kini ia bisa dengan leluasa membuat api, menciptakan kebersamaan dengan cintanya. Namun, lagi-lagi di tengah rasa bahagianya yang sedang memuncak, tiba-tiba ia seolah dijatuhkan dari ketinggian paling tinggi dari langit menuju ke bumi. Sakit sekali.


Apa mau dikata, suara petir bergelegak memecah kesunyian malam. Hujan deras mengguyur tanpa ampun. Air mata lelaki itu tak kuasa meleleh di pipinya. Ia sangat terpukul. Dua kali ia tak mampu mewujudkan impiannya. Jika pun ia tetap membuat api, itu sama saja bohong. Tentu saja hujan akan dengan sangat mudah menelan habis kobaran api.


Dalam kesedihan yang masih mengungkung jiwanya, suara tanpa rupa datang lagi. Semakin jelas dan membuatnya kian penasaran. Sebenarnya apa maunya? Apa dia ingin mencibirku lagi, ucapnya dalam hati.


“Kenapa kau masih mengumpulkan kayu-kayu bakar itu?”


“Apa urusanmu? Apa maumu, hah? Kau ini siapa? Berani-beraninya menasihatiku! Terserah aku!”


“Kau hanya membuang-buang waktu. Bahkan kau telah lupa segalanya karena terlalu sibuk mengurus masalah cintamu. Kau sudah gila. Kasihan sekali.”


Lelaki itu masih dengan keegoisannya. Lalu dengan mata nyalang, ia mencari suara itu. Suara tanpa rupa yang membuatnya naik pitam dan terlalu ikut campur dengan urusannya.


“Jika aku menemukanmu, akan kubakar kau hidup-hidup!” ucapnya di sela-sela pencarian.


Namun nihil. Ia tetap tak mampu menemukan suara tanpa rupa. Lelaki itu menyerah. Tak ingin melanjutkan pencarian. Ia masih menunggu suara tanpa rupa berujar lagi. Tapi yang ada hanya dentuman air hujan yang memukul-mukul tanah. Suara tanpa rupa seolah mendadak bisu, lalu lenyap dalam senyap.


Lelaki itu menerobos gelap di tengah hujan lebat, meski tubuhnya menggigil hebat. Pikirannya seketika melayang. Membayangkan kayu-kayu bakar yang ia simpan di dalam gubuk kecil. Hatinya dirundung kegelisahan dan rasa takut yang luar biasa. Bagaimana kalau ada yang mencurinya lagi. Ah, aku harus mempercepat langkah, tekadnya.


Setibanya di gubuk kecil itu, ia segera mendobrak pintunya. Ia kaget bukan main. Kayu-kayu bakar itu lenyap lagi. Aneh. Sungguh aneh. Apa mungkin ini kelakuan babi-babi sialan itu lagi? Ataukah suara tanpa rupa? Lelaki itu mondar-mandir—berpikir keras. Mencoba mencerna apa arti semua kejadian ini. Ia hanya ingin menuntaskan sebuah janji. Janji pada cinta yang telah lama menunggunya. Mengapa semua orang menganggapnya gila, tidak waras dan lain sebagainya. Mengapa?
Tak terasa, air mata menetes di pipi lelaki itu—lagi. Bibirnya bergetar mengucap sesuatu yang tak jelas. Berulang kali diucapkannya tanpa jeda. Ucapan itu lama kelamaan berubah menjadi sebuah raungan. Ia meronta-meronta. Gigil yang ia rasakan telah pergi, berganti dengan aroma panas. Panas selayak api.


“Kau ingin mewujudkan impianmu?” Suara tanpa rupa mendadak datang lagi.


Lelaki itu berhenti meraung, tapi tubuhnya kian memanas. Ia mendongak mempertajam pendengarannya.


“Pergilah ke atas bukit. Hujan sudah mulai reda.”


Begitulah yang ia dengar. Maka, di tengah rasa lelah dan kecewanya, ia memutuskan untuk pergi ke atas bukit. Di mana cintanya mulai tumbuh. Mula-mula seperti kecambah. Lalu ia siram dengan air kedamaian dan dipupuk dengan berbagai kenangan yang teramat sulit dilupakan.


Sesampainya di atas bukit, lelaki itu melihat tumpukan kayu-kayu bakar tersusun sangat rapi. Didekatilah tumpukan kayu itu. Saat itu juga ia merasa tubuhnya semakin panas dan semakin panas. Panas yang mampu membuat tubuh dan jiwanya meledak—hancur berantakan—tak bersisa.


“Aku tak mampu mewujudkan impianku,” ucap lelaki itu sambil menahan hawa panas yang terus membungkus tubuhnya.


“Kata siapa?” balas suara tanpa rupa yang diam-diam tadi mengikuti langkah lelaki itu.


“Tentu saja kataku. Aku tak sanggup. Tubuhku terlalu panas. Rasanya hendak meledak! Aku, argghhh ….”


“Tapi kau telah berhasil. Lihatlah lebih dekat ke arah tumpukan kayu itu!”


Lelaki itu mendekat dan sedetik setelahnya tak lagi berdebat dengan suara tanpa rupa. Sebab ia telahmenggenapi impiannya. Yaitu membuat api paling indah dan bersejarah dalam hidupnya. Api yang membuat cintanya semakin berkobar mengalahkan nyala api itu sendiri.


Terdengar suara kayu-kayu bakar yang bergemeretak. Api itu membuat malam menjadi sempurna. Meski kepulan asap perlahan membubung tinggi, namun mampu menyingkap gelap yang pekat. Perlahan, seorang wanita dengan perut buncit datang menghampiri lelaki itu. Sayup-sayup wanita itu berkata, “Tidak ada salahnya kalau aku membantumu menciptakan api dari tubuh wanitamu yang lain.”

Selesai…

Semarang, Oktober 2019

Tentang penulis:

Reni Asih Widiyastuti, penulis kelahiran Semarang, 17 Oktober 1990. Penyuka tulisan sejak tahun 2005 hingga sekarang. Pengamat tulisan, sangat menjujung KBBI dan kagum dengan gaya bahasa seperti terdapat dalam novel-novel terjemahan. Juga jatuh cinta kepada genre tulisan romance, komedi, cerita anak dan thriller. Karya-karya alumnus SMK Muhammadiyah 1 Semarang ini (berupa cerpen, cerma, cerita anak, puisi dan resensi buku) telah dimuat di berbagai media, seperti: Kompas Klasika, Padang Ekspres, Solopos, Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Harian Merapi, Kabar Madura, Harian Singgalang, Bali Postdan Magrib.id. Salah satu buku tunggalnya telah terbit, yaitu Pagi untuk Sam (StilettoIndieBook, Juni 2019). Penulis dapat dihubungi melalui email; reniasih17@gmail.com

2 tanggapan untuk “Cerpen Reni Asih Widiyastuti; Lelaki yang Hendak Membuat Api

  • Juni 16, 2020 pada 3:31 am
    Permalink

    Bagus sekali yaa…
    Memainkan emosional pembaca, dan juga bumbu-bumbu metafora yang keren sekali. Semangat yaa kak Reni… Proud of you 🙂

  • Juni 29, 2020 pada 11:08 am
    Permalink

    Waaah sayang sekali tidak bersemuka dengan Anda, ketika Saya magang di SMK Muhammadiyah 1 Semarang hehe

Komentar ditutup.