Cerpen Rouf Kuro; Ode Sapi Tua

Ode Sapi Tua

Seperti malam-malam biasanya, sebelum tidur Mbah Ripah selalu ke belakang rumah menilik sahabatnya. Sahabat yang setia menemaninya bertahun-tahun.

“Jan, kamu tahu kan? Semua anak-anakku ndak pernah ada yang ingin menemui Maknya yang seorang diri di rumah ini. Aku kok sudah ingin ketemu sama putu-putuku[1].”

“Lebaran? Iyyaa hanya lebaran saja, itupun hanya sehari mampir ke sini, meminta maaf saja. Mereka pikir dengan memberiku uang 100 ribu sudah membuatku senang? Sudah bisa membanggakan? Aku tak suka anak-anakku, mereka sudah lupa Emaknya. Mbok ya mampir sekali-kali, nginep 1-2 hari juga tidak apa kan? ”

“Bukannya aku ndak mau serumah dengan anakku, tapi itu lho jan, mereka kan sudah berkeluarga, orang berkeluarga itu kebutuhannya banyak, aku cuma takut terlalu merepotkan mereka nanti, aku takut jika aku jadi momok bagi mereka, ya aku bilang saja pada mereka untuk bangun rumah sendiri, jangan rumah-rumah di sini nanti bojomu pakewuh [2]. ”

“Si Bungsu Harto maksudmu? Dia belum menikah jan.”

Mbah Ripah mulai dihampiri kantuk, menguap panjang. Langkahnya malas menuju dipan bambu samping kandang, terdengar suara “Kriek kriek” saat tubuhnya mencari posisi di dipan, kemudian matanya merem tapi masih berbicara.

“ Mbuh, ndak tahu aku, dia merantau tak pulang-pulang. Kemarin anaknya Marsih pulang dari ibukota, katanya Harto pulang ketika lebaran. Jika sedang di rumah dia yang paling lama di sini, sampai semingguan, katanya mau ngancani aku sebentar. Kalau sudah menikah kuharap dia mau mengajak istrinya rumah-rumah disini, menemani aku.”

“Pengecualian kalau Harto, dia yang paling ku suka dari empat anakku. Dia sering pulang bawa oleh-oleh dan yang paling……..”

Mbah Ripah bicaranya terhenti. Ia terlelap, hanya terdengar suara kakinya digesek-gesekkan dengan kaki yang lain jika digigit nyamuk.

“Jan, lamuknya[3] banyak, ngeri” Mbah Ripah bangun menepuki kaki, lengan dan pipinya.

“Ah, aku lupa menyulut diang[4], lamuknya banyak, biasa musim hujan. Lihat tubuhmu Jan, banyak darah lamuk”

Mbah Ripah kemudian mengumpulkan jerami sisa ke sudut kandang kemudian dinyalakan api, asapnya menari-nari memenuhi ruang kandang.

“Meski kamu itu bukan manusia, tapi kamu adalah pendengar yang baik Jan. Aku takut kesepian. Aku tak ingin menjualmu, siapa yang akan mendengarkanku bercerita nanti? Maafkan aku, jika aku menjual anak-anakmu untuk kebutuhan keluarga” Mbah Ripah mengelus kepala dan tubuh Jan begitu gemas, Jan menggeliat kesenangan.

Di suatu malam yang lain, Mbah Ripah menangis terisak-isak memagut sahabatnya itu.

“Kau tahu kan Jan? Aku membenci dia, lelaki bodoh dan keras kepala. Sudah kubilang untuk apa ikut organisasi terlarang itu. Katanya demi negara dan kebaikan bersama, uang hasil bekerja di pabrik digunakan beli buku, diskusi sampai keluar kota dan semua keperluan organisasi. Dia pikir keluarganya tak butuh makan apa? Anaknya tak butuh sekolah? Untung saja anak mbarep si Sulis mau sekolah nyambi kerja, dia sampai banting tulang menyekolahkan Suyat, Wati juga Harto, sedangkan uangku bekerja sehari-hari jadi buruh tani hanya cukup untuk makan sekeluarga saja. Bahkan ia bersikeras mau menjualmu untuk keperluan organisasi”

Tiba-tiba tangis Mbah Ripah semakin keras, hampir memekik, merobek-robek asap diang yang memenuhi kandang.

“Akhirnya aku mengerti, aku mengerti Jan, lelaki brengsek itu memang ingin meninggalkan aku sendiri, sendirian mengurus anak. Dulu saat ia melamarku, dia bilang akan membuatku bahagia, tak akan meninggalkanku sampai tua nanti, sampai mati, preeeet. Tapi apa? Kenyataannya rumah tangga yang terbangun dengan penuh harapan dan kebahagian itu telah runtuh, dia mati, tak akan kembali, aku tidak peduli dia mati terbunuh, dibunuh atau bunuh diri, lebih baik memang dia mati saja” Tangisnya sedikit demi sedikit mereda. Mbah Ripah mengelus ngelus Jan, lembut sekali.

“Jan, aku sudah tua, bagaimana jika nanti aku mati? Aku akan kesepian di liang kubur. Kamu tahu kan aku benci sendiri? Kamu akan menangisiku kan Jan? Aku tahu itu” Senyum Mbah Ripah menyimpul, tangisnya diseka-seka kain lengannya.

Lebaran sebentar lagi. Banyak orang yang pulang kampung, begitu juga Harto. Tapi ada yang aneh, Harto pulang lebih awal, tidak seperti yang dikatakan anaknya Mbah Marsih.

“Katanya pas lebaran?”

“Aku mau lapor mak”

“Lapor apa? Kamu mau di rumah lebih lama?”

“Iya mak, Harto juga mau bilang, aku mau nikah, dengan orang ibukota” Bicaranya hati-hati.

Mbah Ripah tertegun beberapa detik memandangi anaknya. Dia memalingkan muka, pergi ke dapur meneruskan cuci piringnya. Harto mengikutinya.

“Bagaimana mak?”

“Dia anak mbarep?”

“Endak mak”

“Nomer dua?”

“Dia bungsu mak, sama sepertiku”

“Kamu kan seharusnya tahu, emak ini sendirian di rumah Jan, emak kesepian”

“Iya mak, aku tahu, aku akan ajak Tina rumah-rumah ke sini”

“Itu kalau mau”

“akan kupaksa mak”

“Harto, siapa namanya tadi?

“Tina mak”

“Iya, Nak Tina itu anak ibukota, orang kota, apa jadinya jika dia kamu ajak rumah-rumah ke sini? Dia tak mungkin dipaksa”

“Emak tenang aja. Akan kuusahakan mak. Kalau tidak nanti emak ikut ke ibukota aja, rumah-rumah di sana”

“Jan? bagaimana?”

“……”

“Ndak ah, ajak si si siapa namanya tadi? Hidup di sini”

“Tina mak, Kristina Putri Agatha”

“Iya ajak Tina rumah-rumah di sini. Aku tidak mau meninggalkan Jan”

Kesepakatan pun terjadi. Tapi dari wajah Harto terlihat sesuatu yang mengganjal, dengan sangat hati-hati dan tenang ia mencoba mengutarakan pada emaknya. Dia bersiap siap.

“Makk”

“Ya,”

“Mak, aku mau ngomong, pernikahan nanti dilaksanakan di ibukota mak, pinta Tina. Aku sudah pinjam uang di bank cukup banyak mak, tapi masih kurang dan….”

“Mak tidak punya uang”

“Di kandang mak” jawabnya pelan-pelan.

“Jan ? ” Mbah Ripah menampar Harto sekuat tenaga sisa umurnya.

“Jadi setelah kalian tidak pernah kesini, sibuk mengurusi perut kalian masing-masing, sudah lupa pada emak, kalian mau renggut Jan? Mbok yo sadar le-le, kalian bisa sekolah itu karena mak menjual anaknya Jan yang masih pedhet[5]. Emakmu iki kesepian, dewean lho, Jan itu bukan sesuatu yang mudah dijual, itu teman emak le,kamu tidak ingat? teman emak jika merindukan kalian, anak-anakku. Kamu ingin membunuh makmu pelan-pelan to? Kamu tidak tahu rasanya kesepian ”

“Bukan begitu mak, aku berani berjanji Tina akan kuajak ke sini, rumah-rumah di sini, sebagai teman emak nanti, menggantikan Jan. Jan itu sapi dewasa mak, umur sapi tidak sampai 24 tahun, sewaktu-waktu bisa mati. Mak tidak percaya padaku? Mak? mak?”

Mbah Ripah tidak menjawab pertanyaan anaknya, bibirnya mendadak kelu. Apakah dia harus memilih Harto? Anaknya yang paling terakhir dan paling dia sayangi melebihi lainnya, ataukah lebih memilih Jan? Seekor sapi tua yang bisa saja mati sewaktu-waktu, tapi Jan sudah menjadi teman sejati, pendengar yang baik dan sudah merelakan anak-anaknya untuk dijual memenuhi kebutuhan rumah, bisa jadi istrinya Harto bukanlah pendengar yang baik. Mbah Ripah hanya bisa menangis, tersedu-sedu, ia tak tahu harus berbuat, ia berat memutuskan.

Hingga sehabis subuh, embun masih belum kering, udara dipagut dingin, suara tadarus mengudara dari mushola dan masjid. Mbah Ripah bergegas menuju kandang, tangan kiri mengangkat roknya yang lusuh setinggi lutut sedangkan tangan kanannya membawa ranting pohon sepanjang 150 cm, terlihat tergesa-gesa.

Sejak tadi, hampir satu jam blantik sapi[6] kesulitan menarik Jan untuk dibawa ke truk. Ia terus meronta, seperti tidak mau pergi, dia menyerang yang ada. Mata Jan berkaca-kaca, dia berharap ada seseorang atau siapa saja yang bisa menolongnya. “Meeeeeeeehhhhh”dia terus meronta, berteriak sebisanya, blantik sapi kewalahan.

Mbah Ripah pun tiba, segera ia memecuti tubuh Jan tanpa ampun, membabi buta, tak peduli tubuh Jan lecet-lecet.

“Pergi. Pergi kamu! Kamu sudah tidak dibutuhkan di sini. Pergi! Pergi! Kamu sudah kujual, tidak ada gunanya meronta, lungo kue, yang jauh, kamu sudah tua, tak bisa bunting dan mau mati. Tidak ada gunanya aku mempertahankanmu! Pergi! Pergiiiiiiiiiiii!”

Jan akhirnya sedikit demi sedikit mau bergerak menuju truk, Mbah Ripah terus memukuli tubuh Jan tanpa belas kasihan hingga Jan benar-benar sudah naik di atas truk.

Selesai…

Daftar Bahasa Asing dalam naskah:

  1. Putu : cucu
  2. Pakewuh : sungkan
  3. Lamuk : nyamuk
  4. Diang : jerami bakar di sudut kandang untuk mengusir nyamuk
  5. Pedhet : anak sapi
  6. Blantik sapi : makelar sapi

Tentang Penulis:

Rouf Kuro, penulis asal Kudus, lahir pada Tahun 1997 dan menyebut dirinya sebagai pemuda pesisir bau laut, saat ini masih aktif menjadi Mahasiswa IAIN Kudus, serta berkegiatan di Sanggar Teater Satoesh dan sebagai musisi di Band Urva Creato Kudus.

Wa : 0895353333189

FB : Rouf Kuro

IG : Kurokuro.ninjo

Email: kurokurouf@gmail.com