Cerpen Santi Al Mufaroh; Tujuannya Cuma Satu, yaitu Bergota

Tujuannya cuma satu, yaitu Bergota

Beberapa hari setelah Singgih mengeluh kesepian, istrinya membawakan seekor anak anjing berbulu cokelat untuknya pada suatu petang. Tentu ia menyambut gembira. Tak perlu menunggu lama anak anjing yang ia panggil Milo itu lengket dengannya.

“Lihat, Ma. Cuma kukasih tali rafia, Milo senangnya bukan main. Guling-guling ke sana-kemari!”

Nirmala melongok sejenak. Tampak suaminya menggelasar di lantai bersama Milo yang sedang mengocar-acirkan segulung tali rafia.

“Namanya juga anak kecil, Pa. Sukanya ya main-main begitu.”

Nirmala melanjutkan menggoreng ikan belanak yang tadi pagi dibelinya dari pasar belakang rumahnya, Peterongan. Melihat ikan-ikan berjejer di atas minyak, tiba-tiba ia terkikik sendirian mengingat kekonyolan suaminya minggu lalu.

“Ma, menurutmu ikan itu bertelur atau beranak?”

Meskipun wajah suaminya tampak serius, Nirmala malah terpingkal. “Pertanyaan macam apa itu? Anak kecil juga tahu kalau semua ikan itu bertelur.”

“Kata siapa? Nyatanya ikan ini belanak tidak beltelul.”

“Ampun Gusti. Kamu mending keluar saja. Sana nonton tivi atau main pabji!”

Nirmala mengambil serok yang lantas dipukulkan ke punggung suaminya. Ia benar-benar terbakar gemas sendirian. Terkadang suaminya memang begitu. Lebih tepat dikategorikan sebagai suami pendiam ketimbang cerewet. Hanya di waktu-waktu tertentu saja suaminya mendadak omong banyak.

Aroma dari perpaduan serai, kunyit, daun jeruk, dan jahe yang melumuri ikan belanak membuat asam lambung Singgih kian naik.

“Kapan matangnya, Ma? Yang garing ya. Milo suka kalau ada kriuk-kriuknya.”

“Cerewet!”

Dielus-elusnya bulu-bulu halus Milo. Harum samponya masih terasa menyegarkan walau sudah tiga hari lalu Singgih membawanya ke salon. “Kapan ya Ma kita punya anak sendiri?” bisiknya di telinga Milo. Namun anjing itu tak merespons. Ia tertidur dan mulai terdengar dengkurannya. Meski tak begitu keras, ia berharap suara dengkuran itu bisa menyamarkan pertanyaannya tadi.

Tentu saja Singgih tak membutuhkan jawaban istrinya atas pertanyaan itu. Ia bahkan sangat tahu kalau kata “anak” adalah sesuatu yang mustahil bagi mereka. Selama ini, semacam ada kesepakatan tak tertulis untuk tak mempertanyakan hal itu.

Nirmala selalu bersyukur sebab ia diberikan kelebihan dalam pendengaran dan penglihatan yang amat awas. Namun siang itu ia menyesal memiliki kelebihan itu. Meski cuma bisikan, ia mendengar jelas ucapan suaminya yang ia sendiri tak tahu jawabannya apa. Ia cukup bahagia memiliki suami yang entah sampai kapan bisa menemaninya.

Sebelum membawa sepiring ikan belanak dan sambal terasi keluar dapur, Nirmala melipat ujung dasternya guna menyeka basah sudut matanya. Bercermin di lemari dapur untuk memastikan matanya tak lagi merah. Membuang ingus yang sedari tadi naik turun saat ia berusaha menahan isak.

“Tanpa anak, kita tak akan kesepian Pa,” bisiknya.

***

Meski tak mendengar suara alarm, Nirmala membuka mata tepat pukul setengah lima. Seminggu lebih ia sengaja tak menyetel alarm di gawainya tetapi ia selalu merasa suaminya mengetuk-ketuk kepalanya saat terdengar azan subuh dari masjid dekat rumah mereka. Sebelum bangkit dari tempat tidur, ia pandangi langit-langit kamar selama beberapa menit, lalu menggerakkan jemarinya dengan gerakan genggam-lepas hingga dirasa tangannya mulai lentur, dan menjangkau botol air di atas nakas.

Sesudah minum beberapa teguk, ia tak lantas berdiri dan melakukan aktivitas seperti membuka linimasa Instagram, ke kamar mandi, atau memasak. Ia kembali berbaring dan menatap langit-langit kamar yang dipenuhi hiasan yang menyala dalam kegelapan. Setelah itu barulah ia akan bangkit menuju kamar mandi dan mencoba memuntahkan beberapa teguk air yang sudah diminumnya. Ia logok tenggorokannya tapi tak menemukan apa-apa selain rasa pahit dan perasaan hampa yang berkelindan.

Tentu ia tak mau membiakkan hampa yang kerap menghampiri dan tak kenal waktu itu. Gegas ia mencuci muka dan berjalan menuju pasar.
Diraihnya kantong belanjaan ramah lingkungan yang tercantol di pintu dapur. Alih-alih ikut mendukung gerakan pengurangan penggunaan plastik, sebenarnya ia malas saja. Lagi-lagi harus melipat plastik-plastik bekas belanja menjadi bentuk segitiga dan mengumpulkannya di sudut dapur. Ia selalu merasa plastik-plastik itu masih baru dan bisa digunakan kembali dan sayang kalau dibuang.

Tanpa menyisir rambut dan mengganti pakaian tidur, ia melangkah perlahan dan mengunci pintu. Sempat diliriknya Milo yang masih meringkuk di atas sofa. Anjing gembul itu tak akan bangun meski mendengar Nirmala menjatuhkan sendok atau memukul ember di sampingnya. Ia baru mau bangun kalau tangan Singgih menjewer kupingnya.

Nirmala menyusuri jalanan gang tanpa memakai selipar. Sebetulnya ia ingin berjalan di atas tanah. Akan tetapi di Semarang bagian mana ia bisa menemukan jalan tanah? Melulu yang ia temukan cuma aspal, beton, dan paving. Kalau sudah begitu, ia selalu merindukan rumah masa kecilnya di Talang Dowo. Saat masih kelas tiga SD, ia dan Singgih—yang waktu itu tentu masih menjadi teman sepermainan—seringkali berjalan kaki dari sekolah ke rumah di atas jalan tanah, bermain bubur-buburan yang terbuat dari tanah, atau membuat tembikar.

Ah, Nirmala lekas menepis kerinduan itu dan memilih beberapa ikat pakcoy segar. Lembaran daunnya hijau pekat dan masih basah. Sepertinya sayur itu baru tiba dari Bandungan atau mungkin dari tempat lain yang tidak ia kenal. Kalau memang sayur itu dari Bandungan, tentu ia tak akan meragukan kualitasnya. Semasa kuliah, Nirmala dan Singgih pernah mengikuti perjalanan wisata ke tempat sayur dan buah yang ada di sana. Perpaduan dari kesegaran, rasa manis dan asam buah yang dipetik, membuat Nirmala yakin kalau surga itu memang ada. Sebab tanaman yang ditanam di sana tak pernah jadi tumbuhan yang mengecewakan. Hal itu ia percayai kalau kesuburan Bandungan memang tak melulu soal karaoke saja.

Masih pada pagi yang sama, Nirmala gegas menimbang pakcoy pilihannya. Ia lebih cepat tiga menit ketimbang orang sebelahnya yang baru datang dan hanya memandang kecewa ketika melihat sisa-sisa pakcoy agak layu dan berwarna kekuningan di keranjang sayur. Bagi Nirmala, pada pagi hari, sewaktu di pasar atau di tempat mana pun, ketika ia bisa menemukan apa yang sedang dicari, ia bisa menyimpulkan kalau sepanjang hari yang ia lalui akan menyenangkan.

“Jamu, Mbak?”

Tanpa mengiyakan, ia menghampiri penjual jamu yang sudah menarik tas belanjaannya untuk duduk di dingklik yang disediakan. Ia pikir penjual jamu di kota tak akan memakai kebaya dan jarit seperti di Talang Dowo. Rupanya di sini pun penjual jamu masih memakai caping untuk menutupi kepalanya. Hampir Nirmala membuka mulut untuk menanyakan alasan kenapa wanita itu tak memakai rok panjang atau celana seperti yang orang lain kenakan ataukah memang ada aturan khusus untuk penjual jamu agar mereka selalu bisa menampilkan kekhasannya? Namun seperti biasa, pada akhirnya ia memilih diam dan melanjutkan tanya jawab itu di kepalanya.

“Kunir asem, Mbak? Pakai daun sirih juga ya.”

Sekalipun Nirmala belum pernah minum jamu. Maka dalam sekali napas, ia tenggak habis minuman itu. Sesuai namanya, rasa jamu itu agak asam dan berbau. Ia mengernyih. Penjual jamunya paham dan mengisi batok kelapanya lagi. Kali ini berwarna putih seperti susu dan rasanya manis. Aromanya juga harum.

“Enak to, Mbak? Murah lagi. Cuma dua ribu rupiah.” Karena Nirmala sama sekali tak menjawab, penjual jamu itu tetap melanjutkan burasannya.

”Padahal ya Mbak, uang dua ribu bisa buat apa, to? Paling bayar parkir atau buat kencing. Tak apalah Mbak, saya kasih harga murah yang penting kita bisa hidup sehat.”

Tanpa mengucap kata apa pun, Nirmala mengambil selembar uang dua ribuan dan meletakkannya di atas tenggok.

“Oalah, ayu-ayu bisu to, Mbak.”

***

Tiga siung bawang putih, sesiung bawang merah, dan tiga buah cabai rawit merah yang dipilih Nirmala cukup menjadi bumbu tumis pakcoy selain garam, gula, vetsin, sedikit kecap manis, dan saos tiram. Setiap memilih bumbu, ibunya selalu bilang agar masakan terasa lezat lebih baik menggunakan bumbu-bumbu yang berjumlah genap. Ia yakin rasa masakan akan pas, tak terlalu pedas, juga tak hambar. Akan sangat berbeda rasa kalau jumlah bumbu yang dimasukkan itu ganjil.

Hal itu berlainan dengan apa yang dilakukan oleh Nirmala. Selain jarang menuruti saran ibunya, ia memiliki keyakinan dan selalu percaya kalau apa pun yang ia lakukan mesti berjumlah ganjil sebagaimana zat yang menciptakannya.

Ia pun tetap menikah pada tahun dua ribu sebelas tanggal satu Januari setelah berpacaran sembilan tahun meski tahu calon suaminya memiliki tiga riwayat penyakit yang susah disembuhkan.

“Ibuku juga cuma satu.”

“Tapi ayahmu empat!” Sanggah ibunya.

Nirmala memandang ibunya dengan tatapan kebencian. Ia tak pernah menganggap lelaki-lelaki itu sebagai ayahnya. Sebab bagi Nirmala, ayahnya sudah meninggal bahkan sebelum ia dilahirkan.

“Hmmm, daripada melotot pada ibumu sendiri, lebih baik kamu urusi masakanmu. Jangan kebanyakan kasih gula sama garamnya, Nirmala. Kamu mau diabetes suamimu tambah parah sampai jari kaki dan tangannya mreteli?”

Nirmala berusaha menghapus kenangan yang sekelebat mampir ke benaknya. Ia kembali menyibukkan diri dalam masakannya. Ia berharap harum paduan bumbu-bumbu itu bisa membangunkan suaminya. Sebab sekeras apa pun ia berusaha, Singgih tetap tidur di tempatnya.

Selain tumis pakcoy, ia menyiapkan sepinggan gulai ikan belanak, sembilan tusuk satai kambing muda, dan sekotak chiffon cake. Hari ini adalah hari ulang tahun perkawinan mereka yang ketiga. Mereka mesti merayakannya seperti pada masa pacaran. Biasanya Singgih yang memasak dan Nirmala bertugas menghias meja. Kali ini Nirmala mengalah, ia yang melakukan semuanya. Ia tak mau mengganggu suaminya yang sedang tidur. Ya, lima menit lagi ia kubangunkan. Sepertinya ia sedang kecapaian.

Sembari menunggu lima menitnya, Nirmala mengambil perkakas jahitan yang ia simpan di lemari. Segulung kain flanel, segumpal dakron, dan lem tembak. Ia mau melanjutkan menjahit bantal untuk kado pernikahan mereka. Segulung kain flanel warna merah muda ia lipat. Ia oleskan lem di tepian kain agar rekatannya tak mudah lepas sebelum kain itu dijahit dengan tangannya. Akan tetapi Nirmala berhenti saat ia menjumput dakron. Waktu lima menitnya telah habis.

Lantas ia berganti pakaian dan meninggalkan barisan makanan di meja tanpa mencicipinya. Ia ambil gawai di dalam tas dan memesan ojek Daring melalui aplikasi. Tujuannya tentu cuma satu, yaitu Bergota.

“Nyatanya, tanpa kamu aku merasa kesepian, Pa.”

Semarang, 2019

Tentang Penulis:

Santi Al Mufaroh, penulis asal Jepara, lahir pada 1 Mei 1991. Karyanya banyak mengisi sejumlah media, pernah menjadi juara favorit LMCR 2010, Jakarta. Karya-karyanya antara lain Buku Talnovo, antologi Cerpen “Teater Sumut”, Kendal, Antologi puisi “Adalah Debu,” UKM KIAS UPGRIS, Antologi puisi “Pendidikan Indonesia dalam Bola Ping Pong,” Cerpen “Penabuh Thethek”(Republika), juara 1 Tulis Opini LPM VOKAL UPGRIS, serta media cetak Suara Merdeka dalam karya Cernak “Sostel dan Sayur,” dan sekarang pemilik saham penerbit Buku Beruang.

Akun media sosial:

FB: Almufaroh Santi

IG: almufarohsanti