Cerpen Ulfatul Ucil; Permak Pak Jenggo

Permak Pak Jenggo

Ayam berkokok. Pak Jenggo terbangun dari mimpi buruknya. Lagi-lagi mimpi buruk, tak pernah ia bermimpi indah semenjak dilahirkan ke bumi. Pak Jenggo langsung menuju ruang kerjanya. Pesanan orang sudah menumpuk, ia harus menyelesaikan semuanya hari ini, sebab kalau tidak ia akan di demo oleh banyak orang. Pelanggannya rata-rata adalah para mahasiswa dan tetangga dekat rumahnya. Hasil permakannya lumayan bagus, tapi tak ayal kadang banyak pelanggannya yang komplain karena biasanya Pak Jenggo akan meminta ongkos terlebih dahulu sebelum permakan para pelanggannya selesai.

Biasanya setiap hari Pak Jenggo akan menerima permakan dari pelanggan sekitar lima sampai sepuluh pakaian untuk di permak. Untuk menjahit baju Pak Jenggo belum bisa menerima pesanan sebab di rumah kecilnya itu hanya ada satu mesin jahit tua. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Pak Jenggo mendapat uang dari hasil permakannya setiap hari. Sementra istrinya jualan beras dan buah rambutan di depan rumah mereka. Untungnya rumah mereka berada di pinggir jalan kecil yang setiap saat di lewati banyak orang, dan di sekitar rumahnya banyak kos-kosan untuk mahasiswa sehingga membuat dagangannya laris manis, begitu juga dengan usaha permaknya.

*

Pak Jenggo sedang di ruang kerjanya yang berada di ruang tamu alias ruang kerja dan ruang tamunya jadi satu, sebab rumahnya itu sangat kecil, terdiri dari satu kamar, dapur, kamar mandi yang di gabung dengan satu ruang dan hanya dipisahkan oleh dinding penyekat. Ruang kerjanya yang terletak di ruang tamu itu hanya terdiri dari satu mesin jahit tua dan tumpukan pakaian yang siap untuk di permak. Di ruang tamunya itu selain ada mesin jahit tuanya, ada kursi kayu sederhana, serta televisi usang yang untungnya masih bisa dinyalakan. Mesin jahit tuanya berada di dekat jendela rumahnya dengan menghadap ke jalan kecil namun ramai oleh kendaraan lalu lalang.

Pagi itu, selepas mimpi buruk yang selalu menghampiri dalam tidur nyenyaknya, Pak Jenggo langsung duduk di depan meja kerjanya. Sementara jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Diluar, istrinya yang sedang menunggu pembeli beras dan buah rambutannya mulai ngomel-ngomel karena setiap hari Pak Jenggo selalu bangun kesiangan, dan giliran sudah bangun bukannya langsung mandi malah langsung memulai aktivitas atau kadang Pak Jenggo minta makan dan dibuatkan kopi. Kadang istrinya jengkel karena dianggapnya Pak Jenggo yang jorok dan tak pernah mandi pagi, biasanya mandi pas siangan. 

“ Adus sek to Pak, mengko kerja, wolaa ndablek” istrinya yang sedang duduk di teras rumah sambil menunggu pembeli beras dan buah rambutannya ngomel-ngomel dengan logat jawa yang medok.

Pak Jenggo tak menghiraukan omelan istrinya, ia tetap saja memermak beberapa baju dan celana yang sudah menumpuk. Istrinya sudah tidak tahan lagi melihat Pak Jenggo setiap hari yang selalu bangun kesiangan, sepertinya omelan istrinya setiap hari hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

“ wes saben dino tangine kawanen, gak tau adus, piye to Pak! pantesan rezekinya seret, bahkan shalat subuh kesiangan terus” istrinya kembali mengomel dari luar.

“ Yang penting masih banyak orang yang mau memermak kesini meskipun itu hanya celana dalam, terpenting dapat duit, bisa makan kita.” Jawab Pak Jenggo sambil mempermak baju pelanggannya yang sudah menumpuk dan akan diambil sore hari.

Setiap hari Pak Jenggo dan istrinya memang selalu ribut, meributkan hal-hal kecil. Pernah suatu hari Pak Jenggo ngutang es jeruk di warung lesehannya Bang Ilyas yang kebetulan warung tersebut  berada di seberang rumah Pak Jenggo. Sudah lima kali ngutang dan belum di bayar satu pun. Salah satu karyawan di warung lesehan itu kemudian menagih utang Pak Jenggo kepada istrinya. Hal itu kemudian menjadi percekcokan antara Pak Jenggo dan istrinya. Istrinya terus mengomelinya sampai keesokan harinya omelan tersebut menjadi sarapan pagi Pak Jenggo. Akan tetapi Pak Jenggo tidak menanggapi omelan istri yang di nikahinya tiga puluh tahun yang lalu, sebab ia tahu memang dirinyalah yang salah.

*

Malam itu, ketika semua insan terlelap menapaki mimpi-mimpi indah mereka, rembulan masih tersenyum dan bersandar di tubuh malam, dan ketika semuanya sunyi, yang terdengar hanya suara parau mesin jahit Pak Jenggo yang sudah tua. Pak Jenggo masih mengerjakan permakannya, ia memutuskan untuk lembur malam itu sebab besok ia akan ambil cuti dulu dari pekerjaannya yang penghasilannya hanya sedikit. Besok Pak Jenggo tidak akan menerima permakan dulu dari pelanggannya, karena ia akan mengajak istrinya jalan-jalan dan akan membelikannya baju baru sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka ke tiga puluh tahun.

Malam semakin larut, dan Pak Jenggo sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Ia pun masuk ke kamarnya untuk istirahat. Di ranjang istrinya tidur terlentang memakai daster warna coklat motif bunga yang bagian bawahnya sudah mulai robek. Pak Jenggo mengecup kening istrinya yang setiap hari selalu mengomelinya itu, dan hal itu tidak membuat cinta Pak Jenggo kepada istrinya memudar, justru ia semakin sayang kepada istrinya. Pak Jenggo pun terlelap di samping istrinya berharap ia akan mimpi indah malam itu.

Sumenep, April 2020

 

Tentang penulis:

Ulfatul Ucil, penulis asal Sumenep. Saat ini tinggal di Yogyakarta. Jika ingin mengenalnya bisa melalui via Email :ulfaar97@gmail.com, WA 085336587460, Facebook : UlfaUcil, Instagram: ulfaucil40.