Cerpen Visca Heriawan; Kerelaan

Kerelaan

Siang itu langit kelabu pekat menaungi deretan batu nisan yang tertata rapi. Di tengahnya, pohon melati menguarkan aroma khasnya pertanda beberapa saat yang lalu, baru singgah disana penghuni anyar.
Aku berjongkok di sebelahnya. Mengelus tanah yang baru saja diratakan. Dalam remah tanah yang kugenggam di telapak tanganku, ada sesuatu yang telah pergi tapi tetap mengusik. Antara kepergian dan melepaskan, ada satu pintu yang belum terbuka, kerelaan.

Ini sudah kesembilan kali ibu membuat geger seisi rumah. Ibu hilang, lagi.
Dari kali pertama hingga ketiga, kami memarahi ibu ketika dia pergi tak tentu arah, tak membawa kartu identitas, uang, atau pun telepon seluler yang bisa kami hubungi.
Dari kali kedua aku sudah curiga ada yang salah dengan ibu. Kali ketiga ia hilang, ia ditemukan di tempat pemakaman umum (TPU) dekat area rumah kami, aku putuskan membawa ibu untuk diperiksa.

Alzheimer, hipotesis awal dokter. Dari berbagai tes yang dilakukan, juga hasil pencitraan otak yang ada di depanku, dokter menjelaskan bagian otak mana saja yang sudah tidak berfungsi.
Tiga dokter dan tiga gambar otak ibu yang sama. Bagiku fakta adalah nyata. Bagian terpola yang dinamakan realita, yang harus diterima oleh akal. Mulai saat itu, aku memberikan satu tas pada ibu. Berisi kartu tanda pengenal, telepon seluler yang baterai dan pulsanya selalu aku cek setiap malam, juga uang secukupnya untuk ibu. Tas itu selalu menempel padanya mulai hari itu.

Hilangnya ibu selalu berpola. Ada tiga tempat yang selalu ia datangi, pertama adalah TPU tempat ayah dikubur yang di sebelahnya sengaja dikosongkan dan telah dibayar lunas oleh ibu sendiri, untuk tempatnya beristirahatnya kelak, katanya. Tempat itu yang sering ia datangi. Ketika kami temukan, ia selalu menatap ruang kosong jauh disana, dengan bibir yang bergerak-gerak layaknya sedang mengobrol namun tak bersuara.
Tempat kedua, warung terdekat yang berjarak tiga blok dari rumah kami.

Disana ia menjadi langganan tetap yang duduk di kursi warung dengan segelas teh mengepul di tangannya. Menyeruputnya dengan perlahan. Suka kutemani ia duduk disana hingga habis ceritanya. Entah kepada siapa ia bercerita, tapi tetap kudengar. Kisah cinta pertamanya dengan ayah walau mereka dijodohkan. Di warung itu mereka berkenalan, lalu saling tertarik.
Rumah lama kami bersama ayah dan ibu, adalah tempat ketiga yang ibu kunjungi ketika ia pergi dari rumah tanpa berpamitan.

Ketika ayah meninggal, ibu memutuskan untuk tidak lagi tinggal di situ. Terlalu menyiksa katanya. Setiap hari ibu melihat ayah berlalu-lalang dengan rutinitas ayah yang tak pernah bolong, padahal ayah sudah tiada.
Perlu berjalan kaki 1 jam untuk sampai ke sana. Lagipula rumah itu sudah dijual. Pembelinya tetangga kami yang sudah kami kenal lama. Maka mereka sudah tak aneh ketika ibu kesana, masuk seperti yang empunya rumah. Kadang ia hanya duduk-duduk di beranda rumah. Katanya ia juga suka menyapu sekeliling rumah yang tidak bisa dihentikan oleh siapa pun. Beberapa kali aku meminta maaf pada mereka karena telah merepotkan.

Hari itu, seperti biasa aku di kantor. Lima menit sebelum jam makan siang, aku ditelepon oleh asisten rumah tanggaku. Hari masih cerah dan aku segera bergegas ke rumah lama kami, karena ibu tidak ada di dua tempat langganannya, begitu katanya.
Karena kemacetan jalan ibukota, satu jam kemudian aku baru sampai di lokasi. Ibu tak ada di teras. Aku memencet bel. Tak lama pintu dibuka.

“Eh, nak Bagio, apa kabar?” Ibu Ira, dengan daster, sendal jepit, dan rambutnya yang digelung seadanya, tersenyum ramah padaku.

“Baik, Bu. Ibu sekeluarga sehat semua?” balasku.

“Iya, semua sehat, baik-baik disini. Ayo masuk dulu yuk, ada Andi di dalam” katanya santai.

“Anu Bu, ada ibu saya di dalam?” Potongku sebelum ia menyeretku masuk ke dalam.

“Tidak ada.. Seminggu ini ibu belum bertemu dengan Ibu Ani, Nak. Ibumu sehat?” Mukanya tampak bingung.

“Justru itu saya kemari. Kalau tidak ada, saya izin pamit ya Bu. Keburu gelap. Permisi ya, Bu.” Tandasku cepat.

“Hati-hati ya, Nak!”

Terdengar teriakan ibu Ira di belakangku yang tak kuhiraukan. Pikiranku bingung. Aku harus segera ke rumah barangkali ibu sudah di sana.

Hampir jam lima, langit mendung, angin kencang bertiup, riuh burung-burung beterbangan rendah. Pertanda hujan besar akan segera turun. Tiga tempat aku bolak-balik tapi tetap ibu tidak ada. Di rumah aku limbung, bingung. Ibu kemana, ibu di mana?

Telah kutanyai semua warga disini. Beberapa tidak melihatnya. Beberapa melihat ibu, sekali di TPU, sekali di warung langganan, sekali sedang berjalan menuju ke jalan raya. Telah aku telusuri segala jalan antara rumahku dan rumah ibu Ira namun ibu tak juga ketemu.

“Aduh, lalu bagaimana, Nak? Ibu bisa bantu apa?” Bu Ira pun panik tapi tak bisa berbuat apa-apa selain membuatku semakin bingung dengan kepanikannya. Kuputuskan untuk pulang sejenak. Aku lelah. Hujan angin yang mengguyurku sejak maghrib tadi, membuat kepalaku pening, aku pusing, badanku berat.

Malam itu hujan tak reda, menambah kekhawatiranku. Demam yang menemani malamku, menempel erat bersama pekik detik jam dinding yang membuat perutku mual. Pikiranku menerawang, membayangkan berbagai skenario tempat ibu tidur.

Pagi itu, hari ketiga ibu belum di rumah. Setelah kemarin seharian tak tentu arah mengitari jalanan ibukota, dengan demam yang masih menggelayut. Aku menyerah. Kuputuskan untuk melaporkan ke pihak berwenang.
Kuambil telepon selulerku yang kutinggal di kamar selagi aku mandi.

Di layar, tertulis 12 kali telepon tak terjawab dari Ibu Ira. Ada yang tak wajar. Segera kutekan layar ponselku dan nada sambung terhubung kepada nomor Ibu Ira. Tak sampai dua kali nada tunggu, terdengar suara khas Ibu Ira yang tergesa-gesa.

“Nak Bagio! Nak Bagio!” Terdengar suaranya putus-putus dan aku mengernyitkan alis, tak sabar, semakin kencang telepon seluler kutekan ke telingaku.

Napasku tertahan menunggu sepersekian detik jeda yang Bu Ira berikan untukku menebak, menerka jalan cerita ini.

“Ibumu! Ibu Ani! Cepat kesini ya Nak! Cepat!”

Entah berapa detik aku menahan napasku, telepon ditutup dan aku belum bernapas. Otakku masih berputar. Ada yang tak beres.

Dengan sepeda motor yang di gas dengan kecepatan tak masuk akal, aku sampai ke rumah Ibu Ira dalam waktu 15 menit. Cukup untukku menggantikan oksigen dalam otak yang tadi sempat kuhentikan. Tampak Ibu Ira menunggu di depan rumahnya. Ia langsung lari menghampiri motorku, siap dengan helm dan jaket.

“Ayo kita ke rumah sakit, ibumu katanya dibawa kesana.”

Dalam benak yang bertanya-tanya, aku menurut saja dengan ucapan ibu Ira. Di perjalanan ibu Ira tak banyak bicara. Sesekali kulihat lewat kaca spion, matanya berkaca-kaca, mukanya merah tanda ia menahan air matanya agar tidak tumpah.

Di depan pintu rumah sakit, ibu Ira menggenggam tanganku, mungkin terlalu erat.

“Apa pun yang kamu lihat, sabar ya, Nak, yang sabar.”
Aku makin penasaran, juga bingung. Apa yang menantiku di ujung sana. Aku lega akhirnya ibu ditemukan.
Tak perlu lagi mencari karena pencarian itu melelahkan, tak ada arah, tak tentu tujuan. Tujuanku ada, disana. Yang ketika sampai dan kugenggam, ritme hidupku akan kembali normal. Segalanya lengkap. Kembali seperti biasa.

“Pagi, suster. Barusan ada bapak polisi yang kesini? Ini datang kerabatnya, anaknya, satu-satunya.” Ibu Ira menjelaskan terbata-bata di meja penerima tamu.

“Langsung ke sayap kiri saja, Bu. Masuk ke lorong kanan pertama. Ruangan paling ujung, disana ada yang bertugas.” Tangan suster itu menunjuk sebuah lorong. Di dinding sisinya tertulis ‘ruang jenazah’ dan arah panah yang menunjuk lorong tersebut.

Kakiku lemas. Otakku kaget. Mataku silau. Seperti ada kilat dalam mataku, bersamaan dengan guntur dalam otakku yang sepertinya isinya saling bertabrakan. Tubuhku macet layaknya komputer yang baru diserang virus ganas. Aku tak siap dengan skenario ini. Tidak mungkin. Ibu masih sehat, ia belum dalam tahap kronis demensia. Tidak sekarang. Apa yang terjadi?
Sambaran tangan ibu Ira membuatku mau tak mau harus melangkah mengikutinya. Kesana. Menuju tujuanku yang entah apa atau siapa. Ruangan yang akan mengubah realita hidupku dalam hitungan detik.
Kutarik tanganku dalam genggaman ibu Ira. Aku melangkah mundur di depan pintu itu. Aku tidak siap.

Ibu Ira memandang iba padaku.

“Nak, ibu duluan masuk ya. Kalau kamu sudah siap, masuklah. Tapi jangan terlalu lama disitu. Ada hal yang perlu kau urus.” Ia mengusap pundakku, lalu masuk.

Pikiranku masuk ke ruang kenangan. Disana ada tembok bernama rumah dengan harum ibu di dalamnya. Harum yang sangat pekat, hangat. Nyata tapi tak teraba. Tubuhku gemetaran. Ini yang kedua kalinya. Ditinggal pergi tanpa pamit, tanpa perpisahan. Tembok itu runtuh tak ada lagi rumah, yang hangat dan harum aroma ibu. Aku kehilangan tanpa perlu menyaksikan. Aku hilang pegangan.

Terlihat manusia kesana dan kesini tanpa peduli sosok paling pojok yang sedang terjongkok kalut, memeluk lututnya sendiri layaknya anak kecil sehabis dimarahi ibunya. Melamun, dalam dunianya sendiri.

Ditinggal pergi oleh ayah 7 tahun lalu karena kecelakaan pesawat terbang. Lalu ditinggal ibu dengan cara yang sama, yang bagiku tak wajar. Korban tabrak lari yang menurut data autopsi meninggal saat itu juga. Perlakuan manisku terhadap kedua orang tuaku tak ‘ku tuai manis. Malah mereka berdua pergi, diantar oleh cemas dan berbagai tanya. Begitukah karma padaku?

Ah, mungkin anakku yang akan melakukannya. Kelak… Hiburku sendiri.

Siang itu langit kelabu pekat menaungi deretan batu nisan yang tertata rapi. Di tengahnya, pohon melati menguarkan aroma khasnya pertanda beberapa saat yang lalu, disana penghuni anyar baru singgah.
Aku berjongkok di sebelahnya. Memandang kuyu pada sepasang batu nisan yang bedampingan. Mengelus tanah yang baru saja diratakan. Ada sesuatu yang telah pergi tapi tetap mengusik. Antara kepergian dan melepaskan, serta ada satu pintu belum terbuka yaitu Kerelaan.

Tentang Penulis:

Visca Heriawan dengan nama pena Adamar yang berarti lentera. Ingin berkarya untuk menjadi terang yang menginspirasi. Ikut aktif dalam Competer dan Kepul.

2 tanggapan untuk “Cerpen Visca Heriawan; Kerelaan

  • Juni 8, 2020 pada 8:11 am
    Permalink

    Tulisan yg menggetarkan hati, kisah yg tragis, dunia tidak selalu manis..aku jadi menangis.tetapi kita percaya ada hikmah yang Tuhan siapkan untuk sang anak yang
    rajin mengirim doa untuk kedua orang yg dikasihinya.

    • Juni 9, 2020 pada 1:36 pm
      Permalink

      Amin…Terima kasih komentar dukungannya, Kakakku… Menghayati sekali sampai menangis… 🙂

Komentar ditutup.