Moriah Adakan Pameran Karya Seni Di Mall Matahari Kudus Yang Terbakar

Moriah adakan pameran karya seni rupa di mall matahari yang terbakar lantai 3, dengan tema Kudus yang Dicintai dan Mencintai. Acara ini dilaksanakan pada tanggal 17 September 2020. Acara trsebut menampilkan performance art tari, teatrikal puisi, dan live painting.

Ririn sujianto sabagai perupa dan penyelenggara pameran menjelaskan ada 8 titik pameran, di mana setiap titik pameran mempunyai tema yang bereda-beda. Di ruang pertama mempunyai tema retak, dan ada beberapa cermin di setiap sudutnya, menandakan posisi sudut pandang jika orang masuk kedalamnya. Ke-dua ada ruang keluarga, di sana ada 4 simbol sepatu, tapi yang satu tidak ada, karena ada anak yang ditirikan, hal ini mempunyai makna keluarga harus bisa saling merangkul dan tidak ada yang dibedakan, ke-tiga ada ruang mahkota dari kaca, ke-empat ada bahan seng dan botol bekas yang digantung(sengsong), botol dan seng yang ditiup angin akan bersuara, hal tersebut memiliki makna meskipun benda mati, hal tersebut juga bisa menjadi sebuah irama layaknya benda hidup,

kemudian ke-lima adalah boneka manekin tetapi tidak ada kepalanya, ke-enam ada kursi dan kaki muncul dari closet, hal ini memiliki makna isu matahari yang sengaja dibakar dan rakyat hanya bisa menonton, serta terakhir ruang terdapat kertas bekas terbakar yang ditata sedemikian rupa, bermakna arsip-arsip sejarah yang sengaja dibiarkan dan dibakar.

“Ada delapan titik ruang yang ada di pameran ini, di mana setiap titik memiliki makna dan tema yang berbeda,” jelasnya.

Ririn mengatakan bahwa latar belakang diadakannya pameran di mall matahari lantai 3 berawal dari keresahannya sendiri, karena di Kudus tidak ada acara pameran tahunan seperti di Yogyakarta dan Jakarta. Ririn juga berharap akan ada acara tahunan seni rupa khususnya di Kabupaten Kudus sendiri, karena sebagai anak muda harus selalu berkarya.

“Kalau itu sebenarnya karena keresahan saya sendiri. Kan di kudus ini tidak ada acara pameran, seperti di Yogja atau Jakarta. Saya ingin ada acara tahunan seni rupa,” ungkapnya.

Ririn juga menambahkan tujuan utama diadakannya pameran ini adalah agar orang-orang lebih mengapresiasi karya seni, karena selama ini seni masih dipandang sebagai hal yang tabu dan kurang mendapatkan apresiasi.

“Tujuannya dari saya sendiri seni di kota ini kan masih menjadi tabu, apresiasi juga kurang dari orang-orang sekitar, jadi tujuannya ingin menjadikan orang-orang lebih mengapresiasi seni,” tambahnya.

Pameran ini juga disambut baik oleh pengunjung, salah satunya Riyanto Mahasiswa dari Universitas PGRI Semarang.

“Saya senang adanya pameran ini, apalagi pameran seni ini diadakan di gedung mall yang terbakar, menurut saya cukup unik,” tandasnya kepada team redaktur matasastra.com pada pukul 17.00 WIB.

(Yanti/Ren)