Naskah Monolog Rouf Kuro; Kabul

Barang siapa yang mau mementaskan izin pengarang terlebih dahulu

Kabul

LAMPU HIDUP. HANYA ADA SEORANG LAKI-LAKI DAN SEBUAH SANGKAR BURUNG. IA DUDUK MEMELUK LUTUT, MEMANDANG PILU SANGKAR BURUNG YANG TAK ADA ISINYA ITU.

LAMPU MATI SEJENAK KEMUDIAN MENYALA. IA MEMELUK SANGKAR ITU. DIPELUKNYA ERAT SEPERTI SEORANG KEKASIH, KEMUDIAN IA MENARI MELENGGOK MIRIP BURUNG YANG SEDANG TERBANG DIUDARA. IA MENARI MENGITARI SANGKAR BURUNG. TERKADANG SANGKAR BURUNG ITU DIAJAKNYA MENARI.

LAMPU MATI SEJENAK. IA TERTIDUR. SANGKAR TERLIHAT AGAK JAUH DARINYA. TIBA-TIBA SEBUAH MIMPI MAMPIR DITIDURNYA, MIMPI YANG MEMBUATNYA MENGIGAU.

Bul, Kabul, kabullllllllll!

IA BANGUN KEMUDIAN DENGAN CEPAT MENATAP SANGKAR BURUNG. IA MELIHAT SANGKAR MASIH SAMA, TAK ADA BEDANYA TATAPANNYA TIBA-TIBA KEMBALI LEMAS DAN PILU.

Sialan ! kukira kekasihku. Aku kira kabulku kembali. Ternyata hanyaa….(MENGUAP. MATANYA TERASA BERAT LALUMENCOBA TIDUR) Tidakkkk, aku harus menunggu, menanti Kabulku kembali, jangan tidur. Aku harus menyambutnya. Dia akan datang sebentar lagi(MENAMPAR DAN MEMUKULI DIRI) Bangunn goblokkkk!!Ayo bangun, kamu bukanpemalas kerbau.

DIA MENCOBA BERDIRI TAPI TUBUHNYA TERASA BERAT. TERHUYUNG-HUYUNG. NAFASNYA TERSENGAL-SENGAL. AMBRUK, KEMUDIAN MENCOBANYA BERDIRI LAGI.

Ya seperti ini, ayo tetap berdiri. Kaki sialan! kau harus mengerti apa mauku!! Ayo sedikit lagi, yaaaa, ayoo! (BERDIRI TEGAK MESKI AGAK GEMETAR DIHADAPAN SANGKAR. MENARIK PANJANG NAFAS KEMUDIAN TERTAWA) Hahahaha aku masih berdiri, terjaga, tetap terjaga menantimu.

Katakan padaku kekasih, bahwa aku masih punya harapan, aku tak mau menyambutmu dengan wajah yang lesu, pucat dan muram(MENGHITUNG JARI. TERTAWA)Ahaiiiiiiii, sudah berapa lama aku menunggumu bul? Tempat ini cukup bagus menjadi penantianku, tempat yang jauh sekali dengan apapun. Sinar matahari sudah terasa asing,bahkan aku sudah lupa bentuknya. (TERTAWA LAGI)Alaaah, waktu atau matahari bukanlah persoalan untuk menunggumu, tapi yang menjadi persoalan adalah kepala dan dada ini. Ya, kepala dan dada.

Kepala dan dada yang katanya salah satu ciptaan Tuhan paling luarbiasa. Hanya dada dan kepala yang mampu menggerakan manusia atau malah menggerakan dunia.Tenang bul, aku menjamin, aku masih punya keduanya kok. Selagi kepala dan dada ini bentuknya masih sama jugamasih terpasang pada tubuhku, maka kepala dan dada ini sepakatuntuk selalu terisi namamu, Kabul.

Durga nguwuh. Durga nguwuh?Apa-apaan.Opo iku? Aku sudah tidak percaya. Memala, pamali (TERKEKEH) Bodoh sekali bukan? Aku tak peduli bul. Sungguh, aku tak bohong. Sekarang aku tak memikirkan ciri mathi ataupun katuranggan perkutut.

Orang-orang pasti membanggakankaturanggan perkututnya. Satrio pinayungan, Songgo ratu, Kantong semar, Daringan, Lurah, Guling Murio dan apapun itu, eleeeehhhh. Aku tidak seperti itu!Bagiku kamu adalah senandung disiang yang riuh dan malam yang sepi. Tembang merdu dan nyaring seperti sinden yang mengiringi pagelaran wayang. Kepakan sayapmu sangat gagah bagai kepakan burung elang. Aku bisa leluasa menghabiskan hari yang tak pernah habis ini denganmu. Kalau kamu tak percaya bul, kamu bisa belah dada ini. Ah perkututkuuuu(TERSENYUM BANGGA).

(SEPERTI SIA-SIA. IATERTEGUN) Kalau boleh bercerita, sebenarnya sejak kecil aku sudah sering mendengar suara perkutut, akrab sekali. Bapakku dulu mempunyai banyak burung perkutut, berpuluh-puluh. Saban hari satu persatu burung perkututnya diajak berbicara. Keris juga punya banyak, puluhan juga. Setiap keris ditaruh didalam satu peti sendiri.

Sewaktu kecil aku pernah menyelinap masuk kedalam kamar rahasia bapakku dan mencoba membuka salah satu peti kerisnya, tapi malah ketahuan bapak. Telingaku dijewer bapakku, ditarik keras-keras“Iku barang berbahaya cung, kesanyanganku. Ojo nganti kue ndemek, lah wong nyedak i ae kue ora oleh kok. Krunguuuu?ojo dibaleni neh. Krunguuuuu?” Kemudian aku dipukuli habis-habisan. Bapakku sebenarnya bukan orang yangjahat, malah dia yang memperkenalkanku pada dunia Perkutut. Tentang jenis, katuranggan atau ciri mathi dan semua hal babagan perkutut.

“Cung, perkutut kui akeh jenise. Katuranggan utowo ciri mathine iku dewe-dewe”

“Katuranggan ? Ciri mathi? Nopo niku pak?”

“Katuranggan utowo Ciri mathi iku ciri-ciri awak, ciri fisik termasuk solah bawane perkutut. Lah angger katuranggan opo ciri mathi iku ono maknane. Koyo iki Songgoratu ono jambul neng sirahe, rupane putih, sikil karo cucuk e rondok ireng. Lah perkutut iki iso nolak balak, nambahi wibowo lan ngelancarke rejeki”

“Enakk eee. Lah nek perkutut seng malah marai olo wonten pak?”

“Yo ono lahh, Perkutut seng marai olo iku seng ciri mathine elek, ora apik. Contone Durgo Nguwuh, Durgo Ngerik, Buntel Mayit, Kelabang Kapipit. Wahh akeh cung”

Sampaiumur 12 tahun aku minta perkututbapak dan diberinya seekor perkutut katuranggan Korowelang, kuberi nama Gunawan karena dia anggun dan menawan (TERKEKEH) baru tiga hari punya perkutut. Malah perkututku disita mbahku, Si Gunawan disita paksa. Katanya :

“Bocah cilik ora oleh ngingu perkutut, drung wayahe, bahayaaa”

“Bahaya pripun mbah?iki kan katuranggane apik”

“Halahh, Katuranggan apik tek elek. Podo ae. Bahaya. Pokoke bahaya.Hehh, dirungokno mbahmu ngomong, diwanti-wanti. Engko ono wayahe cung. Ono wa ya he. Krunguuuu?”

Ahh, mbah manusia yang membosankan,ora asikkkk ah. Apa-apa dilarang, apa-apa tidak boleh, Apa-apa “Ono Titi wancine cung, drung wayahe”. Dia sangat berbeda dengan bapakku. Hallah. “ Titeni mbah, nek koe wes mati aku bakal ngingu perkutut seng akeeeeh” Dan benar Setelah mbahku mati, masa bodoh tentang titi wanci segala, aku ora peduli. Pokoke segala perkutut tak cari, semua yang aku inginkan.

Dari perkutut lokal, majapahit, bangkok, mataram wessss semuanyaa. Aku bekerja keras mencari uang setiap hari dan hasilnya selalu kubelikan perkutut baru, hingga ratusan perkutut kupelihara. Tapi entah kenapa lama-lama aku kok jadi jenuh sendiri dengan dunia perkutut. Emboh ah, aku belum pernah puas dengan perkutut, selalu bosaaan. Kucari-carilagi, ketemu, setelah itu bosan, selalu begitu. Benar-benar membosankan. Apa memang tak ada perkutut yang tidak membosankan ya? Apa memang akunya? Atau manusia memang mudah bosan ? Entahlah,aku tidak tahu. Aku sudah muak dan jemu. Tak jual semua perkututku tanpa tersisa.

Sudaaaaahhh !

(SENYUM-SENYUM SENDIRI) Tapi, masih sangat hangat sekali ingatan bagaimana pertama kali aku menemukan Kabul. Entah kenapa waktu itu setelah aku selesai menikah dan bangun rumah, aku ingin sekali burung perkutut. Tiba-tiba pula mendadakteringat salah satu perkataan embahku yang cerewet itu“Ono salah sawijineng titi wancine perkutut yo iku wes nikah nek ora yo nek kue wes umur 40 tahun cung. Diileng-ileng”. Yo yo yo mbaaaah. Perkutut! Burung yang pernah meramaikan masalaluku, burung yang pernah membuatku muak. Sungguh pada waktu itu aku mendapatkan semangat dan gairah yang baru. Segar! Aku ingin burung perkututttt!!!!!!. Hingga disebuah pasar burung sudut kota.

Aku ingat, Kabul kupinang pada pedagang burung Trisno Gembul yang kumisnya sebesar pisang raja. Aku melihat Kabul dalam kurungan besar bersama perkutut lain, bersiul sangat anggun. Seperti surga, luarbiasaaaa. Bercahaya seperti mercusuar ditengah lautan malam. Eh, Saat itu pandanganku benar-benar tak lepas darinya, tiba-tiba seseorang berkata padaku “Durga Nguwuh kau sudah tahu itu kan? Perkutut yang tak pernah henti manggung, siang-malam. Malapetaka, memala. Kue ra kepingin uripmu sudah, rumah tanggamu rusak a?” Lah dalah, Aku juga tahu ciri mathinya,piye yo? tapi suaranya itu lho merdu sekali. Ah Aku tak percaya ciri mathi, katuranggannya.Bodo tenan. Dan wuuuuusssshhhhhhaku menamainyaKabull : Sebab penantianku akan perkutut serasa sudah terkabulkan, sekarang kamu adalah milikku. Kebosanan bertahun-tahun, akhirnyaaaaa (TERTAWA-GEMBIRA) Luar biasaaa.

Hari- hari terasa indah dengan kabul, benar-benar seperti surga. Benar-benar indah. Terkadang aku suka melihatnya dari jauh dan tersenyum sendiri. Indah kan bul? Siang malam kamu selalu bernyanyi dan akupun ikut bernyanyi. Kupandangi dirimu setiap hari, setiap waktu, setiap saat. Kamu yang terakhir bull. Ahhh aku ingin terbaanggggggggg !

(MENARI DENGAN GEMBIRA BEBERAPA SAAT, KEMUDIAN TERSADAR KEMBALI. WAJAHNYA MENJADI LESU DAN SENYUMNYA PAHIT)

Kabul, aku kangen kowe tenaan! Tenaanan! Bangetttt! aku ora apus-apus bul. Halahh bul bull, kabullllllllll. Kapan kowe balik bul?

(KERINDUANNYA MELEDAK. DIA MENYANYIKAN KESEDIHANNYA)

“Angin semilir anggowo udan
Udan, udananono awakku
Panas-panaseng srengenge
Panas panasono awakku
Kabul kabulono kabulku
Yekti aku tan ngiseh ngenteni
Udan, udanono awakku
Panas-panasono awakku
Yekti aku ngiseh ngenteniii”

(KEMBALI TERTAWA DAN MENYEBUT NYEBUT NAMA KABUL)

TIBA-TIBA TERDENGARSUARA SEBUAHTEMBAKAN DIIKUTI DENGAN SUARA TERIAKAN SESEORANG DARI KEJAUHAN ENTAH DARI MANA. TERDENGAR JUGA SUARA SEMAK-SEMAK YANG TERINJAK.

“Saudara Sudah Saya Kepung. Saya Tahu Saudara Ada Disekitar Sini. Menyerahlah. Bertanggung Jawablah Atas Kejahatanmu”

TERLIHAT TIGA-EMPAT SOROTAN LAMPU SENTER DAN JUGA LASER TAK BERATURAN SEDANG MENCARI FOKUSNYA. LELAKI ITU SADAR BAHWA SOROT-SOROT LAMPU ITU SEDANG MENGINCARNYA.

Aihh, suara itu. Mencurigakan. Ada sorot laser danlampu senter. Pasti orang-orang itu lagi sedang mencariku. Stttttttt! Kabul kamu jangan khawatir (SANG LELAKI MEMELUK SANGKAR DAN MENGENDAP NGENDAP, BERGULING-GULING SEPERTI SEORANG MATA-MATA. IA MENGHINDARI SOROT LAMPU) Ssssssttt! Aku harus berhati-hati agar tidak ketahuan(LELAKI ITU TERUS MENGENDAP NGENDAP SEKALI SOROT LAMPU HAMPIR MENGENAI TUBUHNYA TAPI DIA BISA MENGHINDARI DENGAN BAIK. LAMA KELAMAAN SOROT LAMPU ITU MENGHILANG. LELAKI ITU TAMPAK LEGA KEMUDIAN MEMUNCULKAN DIRI DAN TERTAWA)Wuuuu hampir sajaa. Hehmana bisa kalian menangkapku.

Kalian tak akan bisa(TERTAWA) Tempat ini adalah tempat persembunyian yang sangat rahasia. Pepohonan yang lebat, malam yang mencekam dan matahari yang asing, ah sungguh passs sekali. Asal kalian semua tahu, kalian takan bisa menemukan tempat ini, bahkan mengintippun kalian tak bisa(TERKEKEH. MENGHELA NAFAS)Aiiiihhhh.Setiap malam sorot-sorot lampu itu selalu datang, tak terhitung sudah berapa kali. Hah. Sungguh melelahkan.Aku muak dengan orang-orang itu. Aku pernah mengintip mereka, ada beberapa orang, menenteng pistol juga parang.

Pada malam yang kulupa kapan, aku pernah sekali dibuat kapok sorot lampu itu, mereka memanggil namaku dan berteriak “Menyerahlah! anda sudah kami kepung!!” aku tahu bahwa moncong pistol akan mengeluarkan pelurunya, keringatku bercucur-cucur, jantungku berdetak cepat, semua bulu kudukku merinding, Sangkar kabul kudekap erat-erat. Pada saat yang mendebarkan itu tanpa pikir panjang aku mencoba dengan cepat kabur, kubalikan badan dan kuberlari dengan deras tak peduli peluru itu mengenaiku. Hingga suara tembakan dua kali berdentum keras mengibarkan seluruh burung yang ada di hutan. “Duuuuar Duaaaaar” aku tetap berlari, meloncat dibawah pohon. Syukurlah, tubuhku masih utuh, aku selamat. Aku tidak mau mati konyol. Mati tertembak peluru atau dibelah parang. Aku ingin menunggu Kabul.

Harus menunggunya kembali. Menunggunya disini (TERSENYUM PENUH HARAP)
E….hartik. Kenapa kau disini, bukanya kau? eh maaf maaf sayang, eee a-a-aa ku tak sengaja membunuhmu eh menyakitimu. Yakin!, suwerr. Sekali lagi, itu bukanlah kesengajaan. Dulu itu, ceritanya aku membawa pepaya dari kebun, sesaat aku kembali dari dapur mengambil pisau entah kenapa kamu didepanku. Tiba-tiba aku tersandung, terjatuh, kehilangan kendali dan pisau, dan pisau (BERAT MELANJUTKAN. TERBATA) dan pisau menusuk me nusuk perutmuuuu!!! Aduh, pasti sakit (TIBA-TIBA TERTAWA) ya aku menusuk perutmu, kucabik cabik perutmu hingga kau mampuusss puss puss!, o hartik yang cantik, malangg, itu adalah balasan yang setimpal jika kau mengancam membunuh Kabul, akan kubunuh sendiri dengan tanganku. Sebentar,apa ini Hartik?ada semacam makhluk didalam perutmu hartik, seperti bayi. Kamu hamil. Apa ini bayimu Hartik? Ini anakku? Sejak kapan hartik? kamu tak pernah memberitahu?Coba jelaskan padaku tik! jelaskan!Goblokkkk ! Anak yang malang.

Hah biadab memang, kau biadab tikkk! anak inipun akhirnya mati karena kau tik, sadis. Kau sudah mengganggu Kabul dan sekarang anak ini mati! Kabul?Duhhh,(MENUJU SANGKAR DAN MEMELUKNYA) Orang orang matanya mendadak buta dan telinganya tuli, seperti Hartik.Kebencian membuat mata buta, begitupun cinta. Apa aku buta bul? Apa aku karna buta mencintaimu? Entahlah bul. Jangan takutt! ada aku disini, Hartik sudah tiada.

Dan kau jangan seperti Hartik ya bul (SANGKAR ITU LANTAS DIAJAKNYA BERMAIN DAN BERMESRAAN SEPERTI KEKASIH)
( TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA YANG MENGGANGGU, LELAKI ITU TERSINGGUNG) Siapa itu yang bilang? Coba katakan sekali lagi! Diam kalian, diam, Kau? Kau? Diam! Jangan ganggu hidupku dan Kabul. Aku membenci orang-orang yang mengganggu kemesraanku. Apa salahnya bermesraan dengan Kabul? Maunya apa kalian? Biar aku dikira gila, aneh, sakit, tidak normal, apa peduliku?Lebih banyak manusia yang hati dan perasaannya sudah mati, non aktip. Bukan sombong, aku masih punya hati dan perasaan yang terus menyala-nyala. Menyala berkobar seperti matahari yang siap membakar apapun. Senantiasa menyala dan berkobar untuk Kabul.

(MENDADAK SEDIH DAN MERATAP) Hati dan perasaan berkobar tapi rasanya benar-benar hampa. Ah aku sungguh cinta mati kepadamu bul, mungkin aku sudah mati, apa aku masih hidup? Entahlah aku tak tau bedanya. Jiwaku benar-benar terganggu. Hari-hari tak ada asyiknya, tak ada kabul. Hidup sungguh menjemukan. Aku bosan hidup. Tak ada lagumu, tak ada kepakkan sayapmu, takkan ada lagi. Aku kesepian. Sangat sepi. Sunyi, hampa. Aku mencoba mencari perkutut lain tapi sama. Aku mencoba mencari kesibukan lain, masih sama.

Andai Kabulku kembali, akan kunyanyikan kepadanya tembang kesukaannya, kemudian akan kuajak menari mengelilingi setiap sudut dunia ini, akan kuhabiskan umurku untuk itu, benaarr, orang-orang didunia ini pasti ingin dicintai dan mencintai, para petani memberikan cinta pada padi dan tanamannya, para nelayan mencintai perahu dan lautan, orang tua mencintai anak-anaknya.

Haaaaahhh aku puun sama, aku mencintaimu Kabul, aku benar-benar mabukk, aku sudah gilaaaaa. Kamu harus datang bul, aku akan tetap menunggu. Walau sampai aku mati, aku akan sangat bahagia bila mati dalam keadaan menunggumu (TERTAWA LALU TERSENYUM MANTAP, KEMUDIAN MENGHELA NAFAS, MEMEJAMKAN MATA DAN BERNYANYI)

“O, joko mangu tumampir o anangkene
Kabul kabulono kabulku
Wujud kukilo wujud kabulku
Nyatu ing jroning sukma rogo
Yekti aku tan iseh ngenteni
Kabulku durgo nguwuhku
Kabul kabulono kabulku”

LELAKI ITU MENARI DAN TERUS MENARI SEENAKNYA, TIBA-TIBA ADA SESUATU ROH YANG MASUK DALAM DIRINYA YANG MEMBUAT TARIANNYA MENJADI SEMAKIN MENGGILA DAN TAK BERATURAN. IA KERASUKAN SESUATU DENGAN SANGAT HEBAT. DALAM PUNCAK GERAKAN DAN TINGKAHNYA ITU,TIBA-TIBA GERAK-GERIKNYA BERUBAH, SEAKAN-AKAN MENJADI BURUNG. BENAR- BENAR MENJADI BURUNG. KADANG TERBANG, KADANG BERSIUL. IA TELAH MENJADI BURUNG. KABUL TELAH MASUK KEDALAM TUBUH LELAKI ITU.

LELAKI ITU BENAR-BENAR MENJADI KABUL :

“Ku kukukukuku Kukukuku
Ku kukukukuku Kukukuku
Aku manuk perkutut
Perkoro becik ingkang patut
Kukilo sapta bratane menungso
Wujudlan titisan joko mangu
Satrio ing padjajaran
Miber tumeko ing majapahit
Ku kukukuku Kukukuku
Ku kukukuku Kukukukuk
Manukkkk
Manjing lan nyawa
Urip lan mati
Dicipto maring gusti pangeran
Pangoco ugi pengilon lakune manungso
Pengileng maring gustii
Kue ojo laliiiiii
Ku kukukuku kukukuku
Kukukukuku kukukuku
Aku Kabul
Kabulmu uwes kabul
Ojo kedanan maring perkoro
Opo iku sakbenere Tresno?
Sejatinya kabeh iku bakal rusak lan fana
Aja larani awakmu lan aja larani liyan
Kue wes keliru, mripatmu wes wuto
Wuto maring awakmu dewe lan maring liyan,
Balik o, balik marang urip urup menungso
Kanti laku becik e budi pekerti
Ku kukukuku Kukukuku
Ku kukukukuku Kukukuku
Kukukukuku kukukukuku”

LELAKI ITU KEMBALI KESURUPAN. KADANG DIA KEMBALI NORMAL MANUSIA, KADANG DIA MENJADI BURUNG, KESURUPAN SANGAT HEBAT. LAMA-KELAMAAN DENGAN PERLAHAN KEMUDIAN IA SADAR. BADANNYA JADI TERHUYUNG-HUYUNG SEPERTI ORANG MABUK. DIA MELIHAT KEATAS SEPERTI MELIHAT BURUNG TERBANG MELINTAS. DIA MELIHAT KABUL TERBANG. TANGANNYA MENCOBA MENGGAPAINYA TAPI BADANNYA TERLALU LEMAS, LEMAS SEKALI. DIA LELAH. DIA TAK KUAT MENGANGKAT TANGANNYA TERSENYUM .

PERLAHAN IA TERTAWA, AIR MATA TIBA-TIBA KELUAR DARI MATANYA. KEPALANYA MENGHADAP KEATAS, KEARAH BURUNG ITU TERBANG.

Kabullll, terima kasih kabulll, maafkan aku kabul. Aku sudah tahu. Aku sudah mengerti tentang bagaimana mencintaimu dengan benar. Mencintai tanpa menyakiti diri sendiri dan orang lain.(BERAT TERUCAP, TERBATA. MENANGIS) Hartik istriku maafkan aku, bapakku, embahku dan semua yang telah kusakiti, Maafkan aku. (BERTERIAK KERAS) Terima kassssihhh!! Matur suwunnn! Aku tak menahanmu untuk pergi.Aku legowo, ikhlas. Terbanglahh Kabul!!! Terbanglah yang tinggi! Terbanglah !!

DIA SUDAH TAK KUASA MENAHAN TUBUHNYA. PENANTIANNYA SUDAH TERCAPAI. IA SUDAH BERTEMU DENGAN KABUL DAN DISADARKANNYA.DENGAN MASIH TERSENYUM DIA AMBRUK : TAK BERDAYA SAMA SEKALI DAN MATANYA PERLAHAN TERPEJAM BERSAMA REDUPNYA LAMPU.

SELESAI

Kudus, 12 Maret 2019

Tentang Penulis:

Rouf Kuro, mahasiswa semester akhir IAIN KUDUS. Aktif di Teater Satoesh sebagai aktor, penulis naskah, sutradara dan ilustratator musik sejak 2015 sampai sekarang. Pada tahun 2019 gabung Band “Urva Creato”, sebagai gitaris, penulis lagu dan arranger. Bandnya telah launching album yang pertama yaitu, Akar (2019) di Auditorium UMK.