Penulis Rusunothing, Ratri Ninditya; Tipografi Memberi Ruh Pada Puisi

Kudus, Matasastra.com,- Ratri Ninditya, penulis buku puisi Rusunothing, yang menduduki nominasi 5 besar di Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2020, menjadi pembicara di Perbincangan Sastra Blak-blakan (PSBB) yang diselenggarakan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU) episode ke-17 dengan tema “Siasat Puisi Mutakhir Cara Gue”, melalui live Instagram, Jumat, (09/10/2020).

Berkenaan dengan tema tersebut, Dwi Ratih sebagai host, merasa bahwa buku Rusunothing menampilkan tipografi/bentuk yang bervariasi, salah satunya dalam puisi berjudul Kebun yang Hilang.

“Tipografi seperti sengaja dibuat berpencar-pencar antara satu kata dengan kata yang lain,” terang Ratih.

Ninditya kemudian menerangkan bahwa, pola puisi tersebut memang sengaja diibaratkan sebagai air yang memercik, karena saat menulis puisi tersebut, ia merasa bahwa sedang tiduran di air yang mengapung.

“Huruf-hurufnya aku buat italic/bercetak miring. Begitu pula dengan Kalibata City, aku buat pola satu baris yang lurus sebagai simbol lorong-lorong panjang, untuk menambah rasa hampa di puisinya.”

Judul buku Rusunothing berasal dari plesetan RUSUNAMI (Rumah Susun Sederhana Milik), di Jakarta yang dibeli oleh investor properti, lalu disewakan kembali pada buruh-buruh berpenghasilan di bawah 5 juta, tetapi kenyataannya tidak demikian. Alias nothing.

“Kalau kata nothing, saya menyiratkannya sebagai refleksi harapan kosong, kehampaan atau kesempitan,” tegas Ninditya, sebagai Koordinator Peneliti Kebijakan Seni dan Budaya.

Ninditya mengaku sengaja tidak tunduk pada aturan berbahasa karena ia menganggap bahwa bahasa itu politis, dan tentu mengotak-otakkan sesuatu. Maka, ia ingin membuat semua puisinya menjadi fleksibel dan bergerak terus.

“Dulu saya membuat puisi secara spontanitas di blog, itu pun dalam perjalanan menuju ke kantor, sendirian di tengah orang-orang yang sibuk dengan rutinitas, membuat kata-kata terus-menerus muncul,” ungkapnya.

Salah satu anggota dari komunitas Bunga Matahari itu pun terang-terangan curhat tentang keresahannya sebagai perempuan pekerja urban yang hidup di kota besar tahun 2012 di salah satu Rusunami Jakarta. Ia merasa terkungkung dalam kapitalistik.

“Kadang merasa insecure dan frustasi, karena dituntut oleh lingkungan untuk mengejar pencapaian-pencapaian individu yang gemilang.” jelas Ninin lagi.

(Nil)

Satu tanggapan untuk “Penulis Rusunothing, Ratri Ninditya; Tipografi Memberi Ruh Pada Puisi

  • Oktober 13, 2020 pada 1:59 am
    Permalink

    Aturan kebahasaan itu ibarat syarat rukun pada ibadah
    Sedangkan kedalaman dan kebernasan makna ibarat kekhusyu’an dalam ibadah.

    Walhasil : syarat rukun => harus
    khusyu ===> sangat penting

Komentar ditutup.