Pilihan Untuk LGBT; Petrus budi utomo

Dalam website Detik.com pada Agustus lalu, muncul kasus penolakan pergantian nama oleh seorang perempuan asal Palangkaraya. Dalam kasus tersebut orang yang memiliki nama asli Nadya ingin mengganti namanya menjadi Adam, karena menurutnya tak sesuai lagi dengan ekspresinya saat ini. Nadya merupakan satu dari sekian banyak orang yang berusaha mengubah kelaminnya, yang semula perempuan menjadi laki-laki. Ia telah menumbuhkan janggut, memperkecil payudara, serta berperilaku layaknya laki-laki. Namun sayangnya pengajuan tersebut ditolak oleh Pengadilan Negeri Palangkaraya dengan alasan melanggar norma dan agama.

Hal ini menunjukkan masih ada permasalahan identitas yang muncul di Indonesia, terutama bagi kaum LGBT (Lesbian Gay Biseksual Transgender). Negara terkesan terlalu ikut campur soal identitas yang coba dibangun seseorang. Berkaca di negara-negara eropa seperti Denmark dan Jerman yang membebaskan warga negaranya menentukan gender, termasuk menempatkannya sebagai kelamin ketiga. Tak hanya di eropa, negara di Asia Tenggara pun ada yang telah mengadopsi sistem tersebut seperti Vietnam dan Thailand.

Lain hal bila sistem tersebut diterapkan di Indonesia, karena nyatanya penolakan soal LGBT pun masih santer hingga sekarang bahkan stigma buruk ini kian mengakar. Kasus diskriminasi terhadap LGBT terus bermunculan, baik di sektor sosial, pekerjaan, hingga urusan administrasi negara. LBGT seringkali dianggap sebagai manusia hina dan simbol dosa sehingga banyak kasus yang mengharuskan pelaku LGBT meninggalkan rumahnya karena diusir tetangga serta keluarga. Keberadaan mereka saja telah dianggap meresahkan, mana mungkin mereka dapat berkembang dengan bebas selayaknya warga negara. Hal ini menjadi kontradiktif bagi konsep keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Ada permasalahan HAM (Hak Asasi Manusia) yang sengaja dilewatkan begitu saja. Terlepas dari sudut pandang agama, tulisan ini akan mengupas secara ilmiah apa yang terjadi pada pelaku LGBT.

Secara historis praktek LGBT telah ada sejak zaman dahulu. Di mulai dari era prasejarah dimana perilaku seksual sesama jenis, jadi ritual adat tertentu seperti yang dilakukan oleh suku Marind dan Kiman. Berlanjut di zaman Yunani Kuno,muncul paradigma pemujaan terhadap maskulinitas (phallus) yang mengarah pada praktek prostitusi homoseksual. Termuat dalam beberapa kisah orang Kreta, Hikayat Homerus, serta lukisan di dinding Minos. Paradigma semacam ini terus berlangsung hingga erakekaisaran Romawi serta feodalis dimana sistem perbudakan dan budaya patriarki kian terasa, hanya saja tak begitu mencolok layaknya zaman Yunani Kuno. Lain halnya pada abad pertengahan saat dogma agama kian merebak. Hal semacam LGBT sangat dilarang karena dirasa melanggar nilai yang fundamental. Hukumannya beragam, ada yang dicampuk, dipenjara, bahkan sampai dibakar hidup-hidup sehingga muncullah paradigma soal homophobia. Kemudian dari era Renaisans ketika ilmu pengetahuan berkembang pesat, pikiran-pikran soal LGBT dikaji secara ilmiah. Munculnya para filsuf menjadi tanda perdebatan pro kontra soal erotica berkembang pesat.Berlangsung hingga era sekarang, gerakan LBGT terkait hak asasi kian berkembang secara massif. Di samping itu makin marak pula praktek LGBT di sudut-sudut jalan, tempat hiburan malam, bahkan pesta di apartemen mewah.

Kita ambil salah satu contoh, soal fenomena trangender yang jadi Pekerja Seks Komersialdi pinggiran jalan. Secara terang-terangan mereka menjual pelayanan seksual meskipun dibayar dengan nominal yang tak seberapa. Dengan alasan untuk melanjutkan hidup mereka perlu bekerja. Pada saat itu muncul beberapa pelanggaran norma, seperti zina serta perlawanan terhadap kodrat mereka. Efek negatif yang didapatkan antara lain dinista, dijadikan olok-olok, dijauhi, dibenci, ditangkap Satpol PP sampai agresi secara fisik.Dalam pola seperti ini seakankondisi perekonomian memaksamereka mengabaikannorma-norma yang ada dalam masyarakat,
dari fenomena di atas, penulis menemukan beberapa keganjilan.

Mari kita urai dengan logika seperti ini,jika alasan mereka bekerja untuk melanjutkan hidupmaka kemungkinanyang dapat diambil adalah mencari pekerjaan yang mengamankan nyawa mereka. Dalam artian mencari pekerjaan yang minim ancaman bukan sebaliknya. Bila bekerja untuk mengumpulkan rupiah, maka kemungkinan yang bisa dilakukan ialah mencari pekerjaan lain yang lebih mudah menghimpun rupiah, semisal pejabat publik. Atau bisa juga dengan menaikkan tarif layaknya artis papan atas. Terakhir, jika mereka sadar nanti dirinya akan dinista maka kesadaran lain yang muncul adalah mencari pekerjaan yang lebih terhormat.

Ternyata memang benar kehidupan mereka penuh akan batasan. Untuk mendapatkan hal-hal tadi, mereka perlu menyembunyikan jati dirinya. Ketika lingkungan tahu soal LGBT hal yang pertama kali tumbuh biasanya stigma buruk, sehingga perlahan kaum LGBT akan dijauhi. Dalam beberapa kasus memang ada LGBT yang sukses, misal jadi presenter, penyanyi, desainer, salon, dan masih banyak lagi. Konsepnya mereka perlu yakin tampil dan mengakui dirinya seorang LGBT. Namun lagi-lagi mereka harus menghadapi konsekuensi soal pandangan negatif serta kecaman akan dirinya yang lahir begitu saja, termasuk dari keluarga. Karena faktanya masih banyak yang menyembunyikan jati dirinya sebagai LGBT karena takut tak dianggap lagi oleh keluarga.

Perihal semacam itu tentu termasuk dalam tindakan diskriminasi. Dalam pandangan masyarakat mungkin mereka seperti para pemberontak dan teroris yang mengganggu kedaulatan negara, sehingga perlu dimusnahkan. Sentimen seperti itu biasanya muncul ketika ada trauma masa lalu yang mengakibatkan ketakutan berkepanjangan. Mungkin bagi sebagian orang kaum LGBT dulu dianggap pernah melakukan genosida.

Lain halnya dalam perpektif psikologi dimana LGBT tidak lagi dikategorikan sebagai gangguan jiwa karena APA (American Psychiatric Assosiation) beranggapan orientasi seksual bukanlah gangguan jiwa atau penyimpangan. Fenomena LGBT dapat dikaji dengan beberapa teori, salah satunya psikoanalisis. Pada psikoanalisis Freud dijelaskan bahwa tahapan perkembangan kepribadian manusia mencakup tahap oral, anal, phallic, latency, dan genital. Kelima tahapan ini selalu mengarah pada libido atau hasrat seksual. Bila ada tahap yang tidak terpuaskan, maka hasrat itu akan berpindah ke lain waktu dan tempat. Semisal pada tahap anal (18 bulan – 3 tahun) anak mendapat pengalaman berkesan bermain dengan anus/dubur, secara tidak langsung memori tersebut akan terekam dan ciptakan sensasi yang berpotensi muncul sebagai perilaku sodomi ketika remaja. Baik kesan itu menyenangkan atau menyedihkan. Malahan pengalaman buruk lebih berpotensi memicu, karena pada dasarnya segala sesuatu yang ditekan suatu saat akan meledak. Ditambah bila mekanisme pertahanan ego tak berjalan dengan tepat, perilaku yang muncul pun kadang berbeda dengan kebanyakan orang umumnya. Konsep semacam itu juga berlaku pada tahapan kepribadian yang lain.

Dalam teori perkembangan anak sering disebutkan usia 0-5 tahun adalah usia yang sangat rawan. Dimana pengetahuan soal norma atau dalam psikoanalisis Freud disebut super ego belum tertanam secara matang pada anak, sehingga fungsi ego belum terlihat dominan untuk mengambil keputusan. Sifatnya hanya menerima dan meneruskan. Gustav Jung juga menyinggung arketipe yang dimiliki manusia dari ketidaksadaran kolektif, soal anima dan animus. Anima adalah sisi feminim dari ketidaksadaran seorang pria sedangkan animus adalah sisi maskulin dari ketidaksadaran seorang wanita. Keduanya bersifat abadi tertanam dalam jiwa manusia.
Hal ini menunjukkan setiap manusia sebenarnya memiliki potensi yang sama dalam pembentukan gender dan orientasi seksual.

Hanya perkembangannya yang berbeda-beda, bergantung pola didik dan lingkungan seseorang. Padahal ketika ditanya soal latar belakang, beberapa kaum LGBT cenderung tertutup dan berdalih terjadi begitu saja. Ketika lahir telah memiliki kecenderungan menjadi LGBT dan ketika remaja kecenderungan itu semakin membentuk dirinya sebagai LGBT, sementara hasrat mereka semakin lama semakin tertimbun karena tak dapat menyalurkan gairah seksual.

Pola seperti ini bila tak mendapat perhatian dapat memicu kejahatan seksual, seperti halnya kasus pedofil. Dimana orang yang tak terpuaskan di masa lalunya kemudian memindahkan hasrat tersebut pada anak kecil yang notebene mudah dipengaruhi. Skema seperti ini cenderung berjalan hingga membentuk lingkaran setan bila tak ada perhatian lebih soal norma yang dapat meredam. Maka dari itu baik negara maupun masyarakat perlu mengambil peran bila ingin lakukan penanganan yang tepat. Selama masyarakat dan negara tak bisa membedakan dimensi personal, hukum, serta agama maka permasalahan yang berkaitan dengan LGBT pun takkan mereda. Bukan bermaksud memaksakan paham sekular, hanya saja proses memilah dan memilih kebijakan serta stigma perlu dijalankan.

Patut disadari, terjadi proses dilematik akan penanganan kasus LGBT di Indonesia karena bersinggungan dengan kultur serta dogma agama yang melekat. Sebenarnya negara sedikit menyadari berbagai dimensi tersebut dengan tidak menempatkan keberadaan LGBT sebagai tindak kejahatan melainkan lebih menyoroti sebagian aktivitasnya, semisal praktek prostitusi illegal yang berpotensi penularan penyakit seksual termasuk HIV/AIDS. Tapi lagi-lagi ini adalah penanganan kuratif, tidak sebagai upaya preventif. Maka dari itu jalur yang dihadapi ada dua, yakni regulasi serta paradigma. Negara mengambil peran di regulasi dan masyarakat mengambil peran dalam paradigma.

Saat ini negara kurang menunjukkan perannya dalam regulasi karena yang ditunjukkan hanya tidak diakuinya gender serta perkawinan LGBT. Memang benar salah satu fungsi undang-undang adalah membatasi kebebasan, namun negara punya kewenangan mengelola kebebasan tersebut. Negara memiliki beberapa kementerian yang mampu memberikan regulasi dalam eksekusinya. Salah satunya lewat Kementerian Sosial yang dapat melakukan pendekatan individu atau kelompok guna mediasi.

Di beberapa tempat kaum LGBT telah hidup berkelompok dalam komunitas yang mampu mempermudah proses mediasi. Seperti Gaya Nusantara,Yayasan Srikandi Sejati, Arus Pelangi dan masih banyak lagi. Dalam hal ini negara dapat dibantu oleh Dinas Sosial sebagai perpanjangan tangan Kemensos. Tak hanya melakukan penangkapan lalu sekedar dimintai keterangan di kantor, melainkan juga membantu pemulihan mental bila ada yang ingin kembali atau juga pemberian wadah yang berorientasi tindakan positif. Beberapa kegiatan yang dapat dijadikan contoh yakni sosialisasi soal HIV/AIDS, pelatihan dan pembukaan salon serta pendampingan ODHA seperti yang telah dilakukan kelompok Srikandi Perintis, perkumpulan LGBT asal Cimahi.

Setidaknya dengan melakukan pendekatan melalui kelompok-kelompok tadi, dinas sosial dapat menggencarkan edukasi sampai pendampingan soal perilaku seksual yang aman dan dilakukan hanya pada sesama LGBT termasuk tidak melakukan penambahan anggota. Dalam hal ini dinas sosial mampu bekerja sama dengan Dinas Kesehatan untuk proses edukasi. Disamping itu, diperlukan juga pendampingan pada pegiat LGBT untuk membantu proses advokasi dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Di lain pihak, Komisi Perlindungan Anak Indonesia juga perlu mengawal anak yang memiliki historis pelecehan seksual agar kelak tak muncul kejadian serupa yang berkemungkinan menjadikan LGBT, dalam artian KPAI harus jeli menanggapi trauma-trauma yang dapat berakibat fatal di masa depan.

Tugas yang tak mudah juga dipegang masyarakat, dimana sepatutnya masyarakat tak termakan oleh stigma buruk LGBT. Dalam hal ini kaum intelektual lah yang harusnya terus-menerus melakukan pengkajian serta menyuarakan langkah ilmiah dalam penanganan fenomena tersebut. Karena Indonesia adalah negara demokrasi, maka perlakuan negatif terhadap kaum LGBT juga berasal dari stigma masyarakat itu sendiri. Paradigma penolakan seharusnya mampu jadi paradigma pengelolaan. Jangan sampai langkah intelektual terhalang oleh oknum yang menggunakan dalih budaya serta dogma agama untuk melakukan penolakan tanpa pengkajian. Karena bila hal itu terjadi, perlahan fungsi lembaga pendidikan hanya akan jadi tempat singgah isu, layaknya kotak surat.Bila fungsi pikiran telah mati maka ekosistem negara akan penuh dengan bualan tanpa penyelesaian.

Bagusnya lagi bila negara dan masyarakat mampu bekerja sama melakukan penanganan. Analoginya bukan lagi mesin motor yang diisi susu melainkan mesin motor yang diisi bahan bakar. Maksudnya dengan hasil kajian dari kaum intelektual, negara mampu memberikan pendekatan yang sesuai tak lagi termakan sentimen. Seperti halnya dulu ketika awal legalitas LGBT di eropa, kaum intelektual gencar melakukan kajian lalu menggugat ke pengadilan dan akhirnya hakim memutuskan. Setelah putusan keluar, media lekas memberitakannya sebagai upaya membangun paradigma baru. Apalagi dengan kondisi sekarang, beberapa media ditumpangikepentingan negarayang memungkinkan proses penyebaran paradigma barupun jadi lebih mudah.

Mengutip dari sajak Audre Lorde, seorang penyair feminis asal Amerika“Saya ditetapkan sebagai orang lain dalam setiap kelompok yang saya ikuti”. Setiap manusia akan selalu hidup dengan keunikan dan berkembang melalui perbedaan. Tak ada dalih pembenaran tuk melakukan diskriminasi, karena hanya akan berujung dendam dan pertikaian. Seharusnya kemungkinan inilah yang perlu dikhawatirkan bukan soal rusaknya moral bangsa karena adanya perbedaan. Bila perampasan hak jadi kebiasaan, kelak perihal kemanusiaan akan jadi lelucon belaka.

Tentang Penulis:

Petrus budi utomo, lahir di kudus november 1997, menjalani pendidik di Universitas Muria Kudus, dan pegiat teater Aura UMK. Jikan ingin lebih mengenal lagi bisa berkunjung ke akun Medsos:

IG: petrus_budi97
Cp : 08989019335
Email : petrusbudi97@gmail.com