Tegsa Teguh; Kontemplasi Rawan Dilupakan Penyair Pemula

Kudus, Matasastra.com,-Tegsa Teguh Satriyo, penulis buku Jejak Tubuh, menjadi pembedah karya pada Puisi Mingguan yang diselenggarakan oleh Komunitas Keluarga Berkarya melalui Whatsapp Group, (11/10/2020).

Pemateri mengawali diskusi dengan menjabarkan beberapa sentuhan yang perlu diperhatikan oleh penulis.

“Kosa kata seperti kesegaran bahasa, simbol, rima, berkontemplasi (perenungan), dan percaya diri,” terangnya.

Perenungan menjadi langkah yang rawan dilupakan oleh banyak penulis, padahal dengan melakukan perenungan, penulis akan tahu jika ada kesalahan. Saat itu penulis bisa langsung mengganti, menambah, mengurangi kata pada bagian yang perlu dibenahi.

“Joko Pinurbo bahkan rela berkali-kali membaca dan menghapus puisinya yang sudah selesai ditulis gara-gara (saat merenungkan ulang) beliau merasa puisinya terlalu hambar (baginya).” Lanjut Tegsa.

Selanjutnya, Tegsa membedah beberapa karya yang  dianggap sebagai perwakilan karya yang sudah diterima.

“Beberapa puisi ini saya pilih (dengan alasan) mengandung ke-khasan masing-masing; dari segi tema, gaya ungkap, dan kematangan dalam memasak diksi di ruang kontemplasi hingga benar-benar lahir berwujud puisi, karena ada puisi yang dikirim tanpa judul, padahal judul adalah kepala puisi.” tegas pemateri.

Diskusi semakin memanas ketika dimulai sesi tanya jawab oleh Nuryanti sebagai host. Salah satu peserta yang bertanya yaitu Reno, mengaku bingung tentang penggunaan simbol yang beragam justru mungkin akan  menyulitkan pembaca.

“Padahal puisi yang baik adalah puisi yang mudah dipahami,” tanya Reno.

Tegsa menegaskan sekaligus menjawab bahwa menjadi penulis jangan terlalu repot dengan ketakutan akan nasib karyanya, apakah pembaca akan paham atau tidak.

“Setiap karya punya nasib sendiri-sendiri. Jika ‘iman’ penulisnya belum kuat, keadaan ini justru akan berdampak buruk bagi penulisnya, tidak jadi menulis,” jawab Tegsa.

(Nil)